Berbagi Informasi :

Oleh : dr. Adrian Sutisno, Sp.Rad.

Radiologi adalah cabang ilmu kedokteran untuk mengetahui bagian dalam tubuh manusia menggunakan teknologi pencitraan, baik berupa gelombang elektromagnetik maupun gelombang mekanik. Dokter yang mengkhususkan diri dalam ilmu radiologi disebut sebagai radiolog atau ahli radiologi.

Radiolog sendiri bertindak sebagai konsultan ahli yang bertugas untuk merekomendasikan pemeriksaan yang dibutuhkan, menafsirkan gambar medis dari hasil pemeriksaan, serta menggunakan hasil tes untuk mengarahkan pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Salah satu jenis pemeriksaan radiologi yang paling terkenal adalah rontgen menggunakan sinar X. Meski begitu, pemeriksaan radiologi tidak hanya itu. Simak informasi penting lainnya seputar radiologi dalam dunia medis di bawah ini.

Dalam dunia medis radiologi berperan sangat penting. Tanpa adanya teknologi pencitraan, maka penyakit akan sulit terdiagnosis dan pengobatan yang ada pun tidak akan bekerja secara optimal. Akibatnya, semakin banyak orang yang sakit dan meninggal dunia karena penyakitnya tidak terdiagnosis sejak dini.

Beberapa kondisi yang bisa diketahui melalui pemeriksaan radiologi adalah :

  • Kanker
  • Tumor
  • Penyakit jantung
  • Stroke
  • Kelainan paru-paru
  • Gangguan pada tulang dan sendi
  • Gangguan pada pembuluh darah
  • Gangguan pada fungsi hati dan ginjal
  • Gangguan pada kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening
  • Gangguan pada saluran pencernaan
  • Gangguan pada saluran reproduksi

Radiologi dapat dibagi menjadi dua bidang yang berbeda, yaitu:

  1. Radiologi diagnostik

Radiologi diagnosis membantu para dokter dan staf kesehatan untuk melihat struktur di dalam tubuh Anda menggunakan teknologi pencitraan. Hal tersebut dilakukan untuk:

  • Mengetahui kondisi bagian dalam tubuh pasien
  • Mendiagnosis penyebab gejala yang dikeluhkan pasien
  • Memantau seberapa baik tubuh pasien merespons perawatan atau pengobatan
  • Melakukan screening untuk berbagai penyakit, seperti kanker, penyakit jantung, penyakit paru, stroke, gangguan sendi dan tulang, epilepsi, stroke, infeksi, gangguan pada kelenjar tiroid, dan lain sebagainya.
  • Jenis pemeriksaan radiologi diagnostik yang paling umum termasuk: (CT/CAT) scan, termasuk CT angiografi, Fluoroskopi, MRI dan magnetic resonance angiography (MRA), Mamografi, Pemeriksaan nuklir, seperti bone scan, tiroid scan, tes stres jantung thallium, Foto rontgen dan Ultrasound (USG).

2. Radiologi intervensi

Radiologi intervensi memungkinkan dokter melakukan prosedur medis yang minim sayatan (invasif minimal) untuk mendiagnosis maupun mengobati penyakit. Dipandu dari gambar yang didapatkan melalui teknologi pencitraan, dokter dapat memasukkan kateter, kamera, kabel, dan instrumen kecil lainnya ke bagian tubuh tertentu pasien. Dibandingkan prosedur medis yang harus melibatkan bedah terbuka, teknik invasif minimal memiliki risiko yang lebih kecil dan waktu pemulihan yang lebih cepat.

Contoh prosedur radiologi intervensi meliputi:

  • Angiografi, angioplasti, dan pemasangan ring pembuluh darah
  • Embolisasi untuk menghentikan perdarahan
  • Kemoterapi melalui pembuluh darah arteri
  • Biopsi jarum dari organ yang berbeda, seperti paru-paru dan kelenjar tiroid
  • Biopsi payudara, dipandu dengan teknik stereotactic atau ultrasound
  • Penempatan tabung makan
  • Pemasangan kateter

Kewenangan Klinis Dokter Spesialis Radiologi

Ada beragam kewenangan klinis dokter spesialis radiologi. Berikut kewenangan klinis dokter spesialis radiologi menurut bidangnya:

  1. Bidang radiologi dada (toraks)

Prosedur pemeriksaan radiologi yang dilakukan meliputi radiografi konvensional (Rontgen dada), CT scan rongga dada, USG pleura.

  • Bidang muskuloskeletal

Prosedur pemeriksaan radiologi yang dilakukan meliputi Rontgen tulang dan otot, CT scan tulang, MRI tulang, pemindaian tulang (bone scan), dan USG (Doppler) sendi dan jaringan lunak.

  • Bidang saluran kemih dan organ genital

Prosedur pemeriksaan radiologi yang dilakukan meliputi urografi intravena, retrograd/antegrad pyelografi, uretrosistografi, micturating cysto urethrography (MCU), uretrografi, USG (Dopller) saluran kemih, USG testis, genitografi, CT/MR urography, dan MRI organ kelamin dalam.

  • Bidang saluran cerna

Prosedur pemeriksaan radiologi yang dilakukan meliputi Rontgen perut (abdomen), barium meal, barium enema (colon in loop), lopografi, fistulografi, CT kolonoskopi, ERCP, CT/MRI saluran cerna.

  • Bidang neuroradiologi (saraf dan otak)

Prosedur pemeriksaan radiologi yang dilakukan meliputi CT scan serta MRI otak dan saraf tulang belakang, MR myelography, USG otak.

  • Bidang radiologi intervensional dan kardiovaskular

Prosedur pemeriksaan radiologi yang dilakukan meliputi angiografi, venografi, limfografi, myelografi, embolisasi transarterial, biopsi terpimpin (guiding biopsy).

  • Bidang pencitraan payudara

Prosedur pemeriksaan radiologi pada payudara yang meliputi mamografi, USG payudara, MRI dan CT scan payudara, serta duktulografi (pemeriksaan saluran susu).

  • Bidang pencitraan kepala-leher

Prosedur pemeriksaan radiologi yang dilakukan meliputi radiografi konvensional, CT scan daerah kepala dan leher, MRI daerah kepala dan leher, USG daerah leher, sialografi (kelenjar liur), dan dakriosistografi (kelenjar air mata).

  • Bidang kedokteran nuklir

Prosedur pemeriksaan radiologi yang dilakukan meliputi skintigrafi tulang, skintigrafi ginjal, limfoskintigrafi, skintigrafi tiroid, dan skintigrafi hepatobiliar.

Kondisi Medis yang dapat Dideteksi Melalui Pemeriksaan Radiologi

  1. Kanker dan tumor
  2. Kelainan pada paru-paru, seperti: pneumonia, bronkopnemonia, tuberkulosis, bronkitis, Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK), pneumotoraks, dan hematotoraks.
  3. Kelainan pada saluran cerna, seperti: gangguan menelan karena akalasia, penyakit asam lambung, kolesistitis, peritonitis, perdarahan pada saluran cerna, hernia, hingga adanya luka pada dinding saluran cerna akibat infeksi atau radang.
  4. Kelainan pada saluran kemih, seperti: infeksi saluran kemih, infeksi ginjal atau pielonefritis, sumbatan pada saluran kemih atau kandung kemih, pembesaran prostat, dan batu saluran kemih.
  5. Kelainan pada jantung dan pembuluh darah, seperti: gagal jantung kongestif, penyakit jantung, aterosklerosis, penyakit katup jantung, gangguan otot jantung, varises, trombosis vena dalam (DVT), dan malformasi arteri vena.
  6. Kelainan pada saraf dan otak, seperti: meningitis, ensefalitis, infark serebal, stroke, perdarahan otak, hematoma subdural, dan hidrosefalus.
  7. Kelainan pada organ reproduksi, seperti: torsio testis, varikokel, kista ovarium, miom uteri (fibroid rahim), dan infeksi rahim.
  8. Kelainan pada sistem musculoskeletal, seperti: patah tulang tertutup, pergeseran tulang dan sendi, tumor tulang, dan massa jaringan lunak.

REFERENSI

  1. American Radiology Services. Exam Preparation. 
    Drugs. Radiocontrast agents.
  2. Johns Hopkins Medicine. Vascular and Interventional Radiology. What is Vascular and Interventional Radiology. 
  3. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1014/Menkes/SK/XI/2008 Tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik di Sarana Pelayanan Kesehatan. 
  4. Levy, J. NIH U.S. National Library of Medicine MedlinePlus (2017). Imaging and radiology. 
  5. NHS Health Careers UK. Clinical radiology. 
    Cleveland Clinic (2014). GI X-ray Examinations. 
  6. Santiago, A. Verywell Health (2018). Radiologist Career Profile.
  7. World Health Organization WHO. Diagnostic Imaging. Imaging Modalities. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.