Berbagi Informasi :

*Oleh : Noor Alis Setiyadi, SKM., MKM., Dr.PH.

(Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Pendahuluan Tentang Pendidik Sebaya (Peer Educator)

Istilah pendidik sebaya (peer educator) muncul dikarenakan bahwa terdapat asumsi dimana pengaruh usia yang sebaya sangat penting terhadap temannya. Remaja lebih mudah bicara dengan temannya daripada dengan orang lebih tua. Pendidikan sebaya melibatkan mendidik dan mendukung remaja untuk melakukan perubahan dalam kelompok sebaya mereka. Diakui bahwa program pendidikan sebaya meningkatkan remaja. Pengetahuan dan dukungan HIV remaja dalam mengembangkan norma kelompok positif dan dalam membuat keputusan yang aman dan sehat mengenai perilaku berisiko (Mahat, Scoloveno, Ruales, & Scoloveno, 2006).  

Riset di Kenya, Afrika terhadap implementasi peer educator memberi simpulan bahwa motivasi pendidik sebaya mempengaruhi kinerja dan retensi yang menciptakan pemahaman dan respon terhadap motivasi masyarakat terhadap kesuksesan pelaksanaan, keberlanjutan dan skalabilitas dari intervensi berbasis pada masyarakat (Martin, Muhomah, Thuita, Bingham, & Mukuria, 2015).

Apakah peer educator itu adalah faktanya “sebaya”?. Sebaya tidak bisa dilihat dari kesamaan sama persis umur misalnya 15-19 tahun atau 10-14 tahun. Namun lebih pada yang mempunyai kemampuan dalam menjelaskan terkait yang problematika kesehatan. Terkadang pendidik sebaya itu lebih tua dan tidak tinggal bersama remaja (Hull, Hasmi, & Widyantoro, 2004).

Cara pendidik sebaya dalam melakukan pendidikan juga perlu memperhatikan metode termasuk penggunaan sosial media (Carlos King Ho & William Chi Wai, 2017). Namun metode pendidikan sebaya menggunakan telepon tidaklah lebih efektif dari pada cara biasa terhadap pemeliharan dampak kesehatan (Wong et al., 2014).

Pendidik sebaya dapat berbagi pengalaman, pengetahuan yang dikontekstualkan melalui norma-norma, kepercayaan, dan nilai-nilai (Garcia & Harris, 2017)

Riset tentang kepatuhan pada pengobatan antiretroviral HIV di Uganda, Afrika menjelaskan bahwa masih terdapat rendahnya kepatuhan disebabkan stigma, diskriminasi, dan penyingkapan isu karena HIV. Hambatan lain adalah kemiskinan, kelelahan, efek samping, beban pil, depresi.  Untuk mereka membutuhkan fasilitator kepatuhan yang termasuk didalamnya dukungan sebaya, konseling, pekerja perawatan kesehatan suportif, waktu tunggu yang singkat dan penyediaan makanan dan transportasi (Nabukeera-Barungi et al., 2015).

Kader Kesehatan (Village health volunteers)

SEJAK dilakukan restrukturisasi sistem kesehatan tahun 1982, Indonesia fokus pada pengembangan kesehatan tingkat kabupaten. Village health volunteers atau relawan kesehatan desa dipilih oleh komunitas lokal,  atau dikenal di masyarakat dengan istilah “kader”. Peran kader bahkan pernah dilaporkan mampu menurunkan 30% kematian bayi selama 7 tahun dan peningkatan cakupan imunisasi. Negara-negara lain yang menerapkan kader kesehatan misalnya Thailand (1950-an), Ghana (1970-an), dan Nigeria (akhir 1960-an).

Istilah “kader” dimasyarakat langsung dikaitkan dengan ibu-ibu yang secara sukarela bersama dengan PKK (pemberdayaan kesejahteraan keluarga) yang biasanya dipimpin oleh ibu lurah/ kepala desa atau ibu RT/RW. Konsep PKK sangatlah luar biasa dengan 10 program pokoknya,  diantaranya yaitu: Gotong royong,  Pendidikan dan ketrampilan, Kesehatan, dan  Perencanaan sehat.

Dari 10 program pokok kesehatan dan perencanaan sehat bisa artikan bahwa sudah sangat lama konsep kesehatan berbasis keluarga diterapkan dan dimotori juga didukung oleh perangkat pemerintahan desa dan kecamatan juga. Sedangkan “ruh” kader kesehatan sangat didorong oleh jiwa gotong royong yang ada. Artinya, secara sistem, Indonesia mempunyai elemen-elemen yang dapat digunakan dalam pemberantasan penyakit menular maupun penyakit degeneratif.

Yang sering diingat adalah saat ibu-ibu kader membuka layanan posyandu menimbang bayi dan balita, memberikan makanan tambahan, memberi penyuluhan, dan kartu KMS (kartu menuju sehat) nya. Juga ibu-ibu kader yang menghidupkan posyandu lansia (lanjut usia). Kader-kader dan posyandu-posyandu tersebar diseluruh kampung atau RT di Indonesia. Suatu sistem pemberdayaan yang sangat luar biasa.

Selain kader posyandu balita, ada kader posyandu lansia, kader JUMANTIK, kader TBC, dan kader lainnya. Mereka terkesan terfragmentasi atau melakukan kegiatan sendiri-sendiri sesuai dengan tugas mereka sendiri2. Untuk ini, alangkah baiknya kader-kader tersebut terekam dalam basis data sehingga dapat dipetakan rasio kader terhadap jumlah penduduk atau basis kartu keluarga (KK).

Kader Aisyiah TB Care

Terkait dengan TBC (tuberkulosis) yang istilah kesehatan lebih dikenal dengan TB juga membutuhkan perhatian pemerintah dan masyarakat untuk penanggulangannya. Guna pemberantasan TBC diperlukan peran kader ditengah masyarakat.

Misalnya kader Aisyiah TB care, dengan kadernya melakukan TOS TB (Temukan Obati Sampai sembuh), termasuk menjadi PMO (pemantau minum obat). Kader Aisyiah TB care terdiri dari kader kesehatan yang sudah ada dan ada pula yang direktrut baru untuk melaksanakan program yang sementara ini didanai pihak donor. Mereka melakukan kegiatan dengan sangat beragam motivasi dan tingkat keaktifannya, sehingga ada yang mempunyai kesan kader tidak aktif. Padahal mereka sudah melakukan dengan sungguh-sungguh disamping melakukan pekerjaan mereka sebagai ibu rumah tangga, karyawan, paratur sipil negara, petani dll.

Kalau bisa digambarkan, herarki dalam penemuan suspek (yang dicurigai) TBC, mendampingi pemeriksaan dan pengobatan, memantau pengobatan, memberi penguatan pasien yang terkena TB, melakukan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) TB termasuk advokasi dengan layanan TB puskesmasnya dirasa ada unsur yang kurang untuk menopang kader tersebut. Unsur itu adalah mantan pasien TB yang sudah sembuh.

Mereka adalah pribadi-pribadi yang kuat dan teguh karena mereka melakukan pengobatan paling tidak 6 bulan dengan kepatuhan yang tinggi, yaitu tidak pernah tidak minum obat walau 1 hari saja. Mereka rela pulang pergi ke yankes/ puskesmas untuk mengambil obat secara rutin termasuk pemeriksaan rutinya. Belum lagi berbagai cara dan strategi menghadapi efek samping obat. Bahkan ada yang rela meninggalkan pekerjaan dulu agar fokus sembuh, dan masih banyak lagi kelebihan mereka.

Banyak tulisan baik dalam jurnal maupun buku dan lainnya tentang apa itu pendidik sebaya, apa kegunaannya, dan evidence (faktanya) seperti apa.

Penelitian yang dilakukan di fakultas ilmu kesehatan Turki tentang efek dari program pendidikan sebaya dalam melawan kekekerasan terhadap wanita menjelaskan bahwa pendidikan sebaya harus dimasukkan menjadi bagian dari pendidikan keperawatan srata-1 dalam melawan isu kekerasan terhadap perempuan. Peran penting dari pendukung sebaya atau pendidik sebaya adalah untuk menyediakan koneksi antar manusia, seseorang atau kelompok masyarakat melaui pengalaman dan tantangan yang sama atau serupa.

Dalam bidang HIV, sebelumnya, perawat dan pengajar digunakan untuk menjelaskan dan memotivasi remaja untuk menghindari perilaku resiko sexual, kemudian menggunakan remaja SMU di perkotaan menjadi pendidik sebayanya.

Dalam bidang TB, masalah cakupan CNR (case notification rate), temuan suspek, ajakan untuk pemeriksaan, ajakan untuk melakukan pengobatan ke puskesmas/ layanan kesehatan, ikut memantau minum obat, memotivasi pasien TB patuh dalam pengobatan jangka panjang (6 Bulan), ikut mendampingi pasien dalam menangani efek samping dan lainnya yang mengarah pada bertujuan untuk kesembuhan pasien TB. Dan bagaimana tidak kambuh lagi (relapse) juga.   

Maka sangatlah pantas bila mereka diajak pemberdayaan sebagai peer educator (pendidik sebaya), peer support (pendukung sebaya) yang bersama dengan kader melakukan KIE, penemuan suspek, pendamping dan pemantau, juga teman bagi mereka yang sedang dalam pengobatan TB. Mereka merupakan bagian terpenting juga dalam mencapai Indonesia Bebas TB 2035 termasuk meminimalisir terjadinya MDR-TB. Sebagai contoh faktor yang berpotensi terjadi resistensi adalah indek masa tubuh (IMT) yang rendah, berhenti minum obat, lupa minum obat, tinggal dengan pasien resisten TB, TB plus diabetes dan pernah punya riwayat pengobatan TB sebelumnya (Setiyadi NA 2019).

Pendukung Sebaya (Peer Support)

Kehadiran jaringan pendidik sebaya sangat signifikan dalam strategi koping (Sukhai & Mohler, 2017). Strategi coping/ koping merupakan suatu cara atau metode yang dilakukan tiap individu untuk mengatasi dan mengendalikan situasi atau masalah yang dialami dan dipandang sebagai hambatan, tantangan yang bersifat menyakitkan serta ancaman yang merugikan.

Istilah koping dikaitkan dengan cara yang digunakan individu untuk mengurangi stress. Padahal tidak sesederhana itu. Lazarus dalam bukunya Safaria dan Saputra (2009: 96), menyatakan bahwa coping merupakan strategi untuk memanajemen tingkah laku kepada pemecahan masalah yang paling sederhana dan realistis, serta berfungsi untuk membebaskan diri dari masalah yang nyata maupun tidak nyata serta merupakan semua usaha secara kognitif dan perilaku untuk mengatasi, mengurangi, dan tahan terhadap tuntutan–tuntutan (distres demand). Menurut Rasmun (2004: 30) Coping adalah proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi stresfull, serta respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologik. Wrzesniewski & Chylinska dalam (Feldman, 2012: 220), Coping adalah usaha untuk mengontrol, mengurangi/ belajar untuk menoleransi ancaman yang menyebabkan stres. Weiten dan Lloyd dalam Yusuf (2004: 115) bahwa coping merupakan upaya-upaya untuk mengatasi, mengurangi/ mentoleransi ancaman yang menjadi beban perasaan yang tercipta karena stres.

Pendukung sebaya adalah salah satu mekanisme koping dan tugas yang mendasar dalam penyediakan suatu hubungan manusia, suatu individu dan suatu grup yang mendapati pengalaman dan tantangan yang sama (Sukhai & Mohler, 2017).

Daftar Pustaka

  1. Carlos King Ho, W., & William Chi Wai, W. (2017). A Peer-Led, Social Media-Delivered, Safer Sex Intervention for Chinese College Students: Randomized Controlled Trial. Journal of Medical Internet Research, 19(8), 1-1.
  2. Garcia, M., & Harris, A. L. (2017). PrEP awareness and decision-making for Latino MSM in San Antonio, Texas. PLoS One, 12(9), e0184014. doi: 10.1371/journal.pone.0184014
  3. Hull, T. H., Hasmi, E., & Widyantoro, N. (2004). “Peer” Educator Initiatives for Adolescent Reproductive Health Projects in Indonesia. Reproductive Health Matters, 12(23), 29-39. doi: https://doi.org/10.1016/S0968-8080(04)23120-2
  4. Mahat, G., Scoloveno, M. A., Ruales, N., & Scoloveno, R. (2006). Preparing Peer Educators for Teen HIV/AIDS Prevention. J Pediatr Nurs, 21(5), 378-384. doi: https://doi.org/10.1016/j.pedn.2006.02.007
  5. Martin, S. L., Muhomah, T., Thuita, F., Bingham, A., & Mukuria, A. G. (2015). What motivates maternal and child nutrition peer educators? Experiences of fathers and grandmothers in western Kenya. Soc Sci Med, 143(Supplement C), 45-53. doi: https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2015.08.036
  6. Nabukeera-Barungi, N., Elyanu, P., Asire, B., Katureebe, C., Lukabwe, I., Namusoke, E., . . . Tumwesigye, N. (2015). Adherence to antiretroviral therapy and retention in care for adolescents living with HIV from 10 districts in Uganda. BMC Infect Dis, 15(1), 520. doi: 10.1186/s12879-015-1265-5
  7. Setiyadi NA , W. A., Asyfiradayati R, Bagaskoro Alex (2019). Model Promosi Kesehatan Pencegahan Resistensi Obat Tuberkulosis Di Kabupaten Sukoharjo. Public Health Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta, Indonesia.
  8. Sukhai, M. A., & Mohler, C. E. (2017). 9 – Peer-support networks Creating a Culture of Accessibility in the Sciences (pp. 105-113): Academic Press.
  9. Wong, E. Y., Jennings, C. A., Rodgers, W. M., Selzler, A.-M., Simmonds, L. G., Hamir, R., & Stickland, M. K. (2014). Peer educator vs. respiratory therapist support: Which form of support better maintains health and functional outcomes following pulmonary rehabilitation? Patient Educ Couns, 95(1), 118-125. doi: https://doi.org/10.1016/j.pec.2013.12.008

By admin

One thought on “Peran Pendidik Sebaya (Peer Support) dalam Tuberkulosis di Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.