Berbagi Informasi :

*Oleh : Anis Fuad, S.Ked., DEA.

Semenjak diterapkannya kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional, adopsi teknologi informasi di puskesmas meningkat tajam. Hal ini disebabkan karena puskesmas, sebagaimana juga seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) lainnya, wajib menggunakan PCare.

P-Care dan interoperabilitas

Aplikasi berbasis cloud tersebut dikembangkan dan dikelola oleh BPJS Kesehatan. Puskesmas dapat menggunakan aplikasi ini untuk mencatat kunjungan dan pelayanan yang diterima oleh peserta BPJS Kesehatan. Mulai dari data demografis, keluhan utama, tanda-tanda vital, diagnosis sampai dengan pengobatan dapat dimasukkan ke dalam sistem.

Karena berbasis cloud, riwayat kunjungan di fasilitas kesehatan lainnya pun dapat diakses saat kunjungan. Ini yang menjadi pembeda. Jika menggunakan rekam medis kertas atau family folder, riwayat pasien hanya tersimpan di wilayah dimana pasien terdaftar di puskesmas. Jika mengacu kepada pengertian rekam medis elektronik, aksesibilitas data pasien di lebih dari satu fasilitas kesehatan dapat dikategorikan sebagai rekam kesehatan elektronik.

Bagaimana dengan puskesmas yang sudah menggunakan aplikasi sistem informasi? Ada yang beruntung karena aplikasinya sudah bridging atau interoperabel dengan PCare. Kabarnya jumlah aplikasi  sistem informasi puskesmas yang sudah mampu bridging masih terbatas. Pada puskesmas yang menggunakan simpus yang belum bridging, mau tidak mau petugas puskesmas harus mengentrikan data berulang. Setelah memasukkan data ke dalam aplikasi simpus, mereka juga harus memasukkan data tersebut ke PCare.

Jika sudah menggunakan aplikasi, apakah puskesmas masih menggunakan family folder? Ternyata, ada puskesmas yang benar-benar meninggalkan rekam medis kertas atau family folder. Salah satunya adalah Puskesmas Cilandak di Jakarta Selatan. Hanya di poliklinik KIA yang masih mempertahankan berkas rekam medis kertas. Di sini, aplikasi simpus sudah bridging dengan BPJS Kesehatan. Dengan koneksi Internet broadband, puskesmas tersebut nyaman-nyaman saja menggunakan aplikasi mereka dalam mendukung pelayanan sehari-hari.

Interoperabilitas lain

Apakah dengan demikian aplikasi tersebut sudah menjadi solusi tunggal yang memenuhi semua kebutuhan puskesmas dalam pencatatan dan pelaporan? Ternyata belum. Masih ada beberapa aplikasi untuk penyakit khusus yang belum interoperabel. Contohnya adalah SITT (Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu), SIHA (Sistem Informasi HIV/AIDS), Siskohatkes (aplikasi pemeriksaan kesehatan jemaah calon haji), SIMPTM (aplikasi berbasis web untuk penyakit tidak menular).

Jadi, untuk mencapai fase dimana rekam medis elektronik benar-benar tersedia dan interoperabel dengan semua aplikasi nampaknya masih membutuhkan waktu panjang.  Beberapa aplikasi tersebut dikembangkan oleh berbagai direktorat di Kementerian Kesehatan. Konon kabarnya, Kementerian Kesehatan akan mengintegrasikan berbagai aplikasi tersebut ke dalam suatu aplikasi tunggal berbasis cloud.

Beberapa aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi RME, yaitu : 1) Aspek non teknis seperti kemampuan SDM, leadership dan komitmen. 2) Aspek teknis yang terkait dengan standar maupun metode untuk menjamin interoperabilitas juga penting untuk menjadi perhatian. Selain itu, tentu saja aspek teknis yang berkaitan dengan pasokan listrik serta Internet.

*SUMBER : http://healthcareitnews.informatikakesehatan.net

One thought on “Transisi Rekam Medis Elektronik di Puskesmas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.