Berbagi Informasi :

Banyuwangi – Jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di wilayah kerja Puskesmas Gitik, Banyuwangi, mencapai 1.000 lebih, ada pula ODGJ berat seperti schizofrenia yang baru terdata 54 orang. Upaya Puskesmas Gitik untuk menjaga kestabilan mental ODGJ dilakukan dengan memberdayakan kemampuan mereka.

Pemberdayaan ODGJ itu dikemas dalam sebuah inovasi yang dinamakan Terapi Okupasi dan Pemberdayaan Orang dengan Gangguan Jiwa (Teropong Jiwa). Saat ini ada 12 ODGJ yang sedang dalam proses pelatihan di Poli Kesat (Kembali Sehat).

Koordinator Kesehatan Jiwa Masyarakat Puskesmas Gitik, Eko Budi Cahyono mengatakan Teropong Jiwa dimulai dengan pendataan orang yang berisiko terkena gangguan jiwa. ”Ketika diketahui ada keluarga yang sering konflik, kami langsung lakukan konseling untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa. Itu upaya pencegahan yang kami lakukan,” katanya.

Bagi ODGJ, lanjut Eko, Puskesmas Gitik menampungnya di Poli Kesat. Di poli tersebut ODGJ mendapatkan berbagai pelatihan untuk membangun semangat kerja agar bisa mandiri. ”Kami tampung di Poli Kesat untuk membangun semangat kerjanya. Konsepnya kami tentukan ODGJ, kami latih untuk meningkatkan kreativitasnya. Pelatihan di Puskesmas seperti membuat kerajinan atau recycle barang bekas,” ujar Eko.

Pelatihan dilakukan melalui tiga tahapan, antara lain dimulai dari tahapan dasar, menengah, dan akhir. Bagi ODGJ yang sudah melalui semua proses tahapan pelatihan akan dipekerjakan dengan masyarakat.

”Mereka disalurkan untuk bekerja agar bisa mempunyai penghasilan dan mandiri. ODGJ ini sudah banyak yang bekerja seperti di UMKM, pertanian, peternakan, dan menjadi tukang. Mereka dibebaskan memilih bidang pekerjaan, yang penting mereka tidak sendirian, banyak beraktivitas, dan produktif,” ucap Eko.

Teropong Jiwa tak hanya bagi ODGJ di wilayah kerja Puskesmas Gitik, melainkan bisa menerima pasien dari luar wilayah kerjanya. Bahkan inovasi ini sudah mulai direplikasi ke seluruh Puskesmas di Banyuwangi.
Ada 6 desa yang masuk wilayah kerja Puskesmas Gitik, antara kain Desa Lemahbangdewo, Gitik, Rogojampi, Karang Bendol, Kedaleman, dan Desa Pengantigan. Pasien ODGJ berat paling banyak ada di Desa Rogojampi, yakni sebanyak 14 ODGJ berat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.