Berbagi Informasi :

Kabar tentang kasus narkoba yang menjerat kehidupan public figure seolah terus terdengar. Belum lama ini seorang komedian dan seorang aktor muda ditangkap polisi karena kedapatan menyembunyikan barang terlarang tersebu. Tak lama kemudian, anak seorang aktivis dikabarkan telah ditangkap polisi karena terbukti mengedarkan sekaligus memakai narkoba.

Kasus-kasus tersebut menambah daftar panjang nama-nama kalangan public figure hingga orang-orang ternama yang tersandung kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Sepanjang tahun 2019, tak kurang ada sembilan nama public figure yang sudah ditangkap pihak kepolisian karena terjerat narkoba. Mereka terdiri dari berbagai macam profesi. Mulai dari musisi, penyanyi, bintang sinetron, komedian, juga selebgram hingga aktivis.

Maraknya artis atau kalangan public figure yang terjerat kasus narkoba semestinya menjadikan kita semua semakin meningkatkan kewaspadaan terkait ancaman narkoba. Survei Badan Narkotika Nasional saat ini menyatakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai lebih dari 4 juta orang. Dari survei prevalensi penyalahgunaan narkoba, lebih dari 30 orang meninggal setap harinya karena narkoba.

Tanpa bermaksud mengesampingkan kalangan lain, satu kalangan yang sangat penting mendapat perhatian terkait penyalahgunaan narkoba adalah kalangan remaja atau generasi muda.

Terlebih, begitu banyak data menunjukkan tingginya angka penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda di Indonesia. Survei Badan Narkotika Nasional (BNN), dan LIPI menunjukkan sebesar 2,3 juta pelajar atau mahasiswa Indonesia pernah mengkonsumsi narkotika.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Maret 2018 mencatat bahwa dari 87 juta populasi anak di Indonesia, 5,9 juta di antaranya menjadi pecandu narkoba.

Kemudian, survei BNN bersama Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia pada 2016, diketahui bahwa kasus penyalahgunaan narkoba dan NAPZA di kalangan pelajar sebesar 1,9%. Artinya, sekitar 2 dari 100 pelajar di Indonesia merupakan pengguna narkoba/NAPZA. Data-data tersebut jelas menggambarkan betapa persoalan narkoba di kalangan generasi muda kita begitu serius.

Kita tahu, generasi muda merupakan masa depan bangsa. Di pundak mereka, masa depan bangsa ini ditentukan. Terlebih, bangsa Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada rentang tahun 2030-2035 kelak, di mana penduduk usia produktif lebih banyak daripada penduduk berusia non-produktif.

Kita tentu ingin mengisi bonus demografi tersebut dengan pemuda-pemuda berusia produktif yang tak hanya cerdas, namun juga memiliki kesehatan dan kebugaran, baik mental maupun fisik.

Hal tersebut agar generasi muda bisa memberikan kontribusi positif bagi perkembangan dan kemajuan bangsa. Sesuai tema HUT RI ke-74 tahun ini, yakni “SDM Unggul Indonesia Maju”, untuk menuju kemajuan bangsa ini mesti memiliki Sumber Daya Manusia yang unggul. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.