Berbagi Informasi :

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) membuat survey pada beberapa produk makanan dan minuman dalam kemasan mengandung pemanis buatan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat.

Dalam penelusurannya, YLKI menemukan sejumlah produk tidak mencantumkan penandaan pemanis buatan yang jelas sehingga masih banyak dikonsumsi oleh kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah usia 5 tahun.

“Barangnya legal, sesuai standar, tapi orang nggak paham jadi semangat pembatasan konsumsinya tidak ada. Mungkin kelihatannya sepele, hanya penandaan pemanis buatan tapi bisa berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat apalagi penyakit yang dibiayai BPJS kesehatan,” kata staf Bidang Penelitian YLKI, Natalia Kurniawati saat dijumpai di Kantor YLKI, Jakarta Selatan.

Pembatasan konsumsi pemanis buatan sebagai pengganti gula sudah tercantum pada Permenkes 33 tahun 2012 yang menyebut bahwa produsen harus menjelaskan bahwa produk yang mereka jual tidak untuk dikonsumsi oleh kelompok rentan.

Namun pihak YLKI menemukan masih banyak kelompok tersebut yang mengonsumsi secara masif karena imbauan tidak terbaca, tertulis sangat kecil, bahkan terkesan seadanya.

“Jika label kesehatan disembunyikan, peringatan kesehatan tidak diperihatkan jelas menandakan adanya kesengajaan dan itikad tidak baik dari produsen,” sebut Ketua YLKI, Tulus Abadi, saat dijumpai di kesempatan yang sama.

Adapun dampak konsumsi pemanis buatan pada kesehatan yakni meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal, kegemukan, penyakit saraf, diabetes, dan kanker.

Ke depannya, YLKI merekomendasikan agar Kemenkes dan BPOM memperjelas regulasi terkait penandaan label pangan yang mengandung pemanis buatan dan dilakukan revisi seperti memperjelas atau memperbesar tulisan, memberikan pewarnaan khusus, dan memberikan peringatan berupa gambar agar lebih mudah dipahami konsumen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.