Berbagi Informasi :

Oleh : Yohanes Enggar Harususilo

Berdasarkan penelitian global, isu kesehatan mental mahasiswa maupun siswa kini menjadi masalah utama di beberapa negara.  Catatan Mozaic Science melalui World Economic Forum (WEF) menyebutkan jumlah mahasiswa di Inggris yang mengunjungi bagian konseling kampus meningkat hampir lima kali dibandingkan 10 tahun lalu. Gareth Hughes, dosen dan psikoterapis yang memimpin penelitian untuk kesehatan mental mahasiswa di University of Derby menyampaikan, “Ada peningkatan pada mahasiswa yang sakit mental secara signifikan. Mayoritas mencari bantuan untuk depresi atau kecemasan.”

Sebenarnya penyebab di balik peningkatan ini tidak jelas. Samira Shackle dari Guardian pernah menuliskan beberapa penyebab di antaranya; dampak dari media sosial, kurang tidur akibat perangkat elektronik, efek dari dunia kerja yang tidak pasti, masalah finansial hingga layanan publik yang terbatas. Tantangan kesehatan mental pertama: kehidupan kampus Inggris tidak sendirian dalam hal ini. Di Amerika Serikat, depresi dan kecemasan di kalangan anak-anak di bawah 17 menjadi lebih umum, sementara di kalangan mahasiswa permintaan untuk konseling telah meningkat tajam.

Data dari dua survei besar siswa nasional, menemukan tingkat pemikiran bunuh diri, depresi berat dan cedera diri di antara siswa berlipat dua antara 2007 dan 2018. Namun selama periode sama, anggaran Institut Kesehatan Mental Nasional tidak meningkat. tidak mengikuti inflasi, yang berarti dana penelitiannya telah berkurang secara riil. Lebih jauh Gareth Hughes menyampaikan anak muda akan mengalami efek dari masalah kesehatan mental secara langsung saat masuk bangku kuliah. Sayangnya, tambah Hugh, mayoritas orang baru akan menyadari kondisi kesehatan mental dan mengalami gejala pertama pada saat mereka berusia 24 tahun. Ini berarti masa selama di universitas menjadi potensi besar bagi banyak yang dapat memicu timbulnya penyakit mental.

Lalu soalnya kini, bagaimana universitas dapat membantu dalam melakukan pencegahan ini sedini mungkin?

Tangung jawab moral universitas Stuart Slavin, peraih gelar master pendidikan yang kini mendesain kurikulum untuk mahasiswa kedokteran Saint Louis University di Missouri, Amerika Serikat menyampaikan hasil yang mengejutkan terkait penelitian yang dilakukannya. “Siswa baik-baik saja ketika mereka masuk di masa orientasi, melaporkan tingkat normal depresi, kecemasan dan stres.

Namun hanya berselang enam bulan kemudian, tingkat depresi akan meningkat selama masa kuliah pertama, dan gagal kembali ke tingkat semula pada akhir tahun pertama, atau bahkan pada akhir sekolah kedokteran.” Slavin kemudian mengembangkan model sederhana untuk meningkatkan kesehatan mental mahasiswa, yang menurutnya dapat diterapkan di seluruh pendidikan.

“Satu: ini terutama masalah kesehatan lingkungan, jadi mari kita kurangi tekanan yang tidak perlu. Dua: hidup itu penuh tekanan, dunia ini penuh tekanan, jadi mari kita ajarkan mahasiswa bagaimana cara mengatasinya dengan psikologi kognitif dan positif. Dan ketiga adalah menciptakan ruang dalam kehidupan mereka untuk menemukan makna. Itu dia,” tegasnya. Ia menyebutkan memang otoritas universitas berbeda dengan orangtua untuk mengurusi hal ini.

Namun  kampus memiliki pengaruh yang sangat besar atas kehidupan orang muda. “Kesempatan untuk mendukung kesehatan mental mahasiswa mereka adalah posisi yang sangat baik dan bisa dikatakan menjadi bagian dari tanggung jawab universitas. Ini adalah kewajiban moral,” katanya. Perubahan kurikulum berpihak pada kesehatan mental Pada tahun 2018, analisis data kesehatan mental dari seluruh Amerika Serikat, Inggris dan Kanada menemukan bahwa kekhawatiran akademis menyumbang sejumlah besar penyebab bermacam tingkat kecemasan mahasiswa. Namun, sering kali, penyakit mental dijadikan masalah biologis untuk diobati dengan obat. 

Faktor inilah yang menjadi fokus Slavin. Slavin memiliki keyakinan, bila masalah yang dihadapi mahasiswa tidak didengarkan dan diselesaikan, pengobatan akan menjadi hal yang sia-sia. Misal, masalah yang diidentifikasi siswa adalah jam kelas yang panjang, terlalu banyak materi dan kompetisi yang kuat.

Slavin menyampaikan pihak universitas dapat memotong kurikulum keseluruhan sebesar 10 persen dan menyisihkan beberapa waktu luang baru untuk mata pelajaran pilihan. Pada konferensi 2015 di Kanada, 45 negara menyusun Piagam Okanagan menyerukan universitas mengubah cara mereka mendukung kesehatan dengan membuat universitas untuk menerapkan dalam semua aspek kehidupan kampus, baik akademik dan non-akademik. Agar mahasiswa lulus dengan bahagia Saat ini 78 universitas di Inggris telah secara terbuka menegaskan komitmen mereka terhadap Piagam Okanagan, dan jumlahnya terus bertambah.

Misalnya, beberapa prodi universitas mengurangi jumlah jam yang dibutuhkan di tahun pertama, sebagai tanggapan terhadap siswa yang mengatakan mereka merasa kewalahan untuk menyesuaikan. Beberapa prodi di sana juga telah menambahkan kelas persiapan sebelum memulai mata kuliah penting dengan tingkat kegagalan tinggi. Hughes menegaskan keberpihakan ini akan jauh lebih efektif dan menjadi program pencegahan ketimbang memberikan pengobatan dan konseling.

Dia mengatakan tujuan universitas adalah memungkinkan orang muda untuk menyelesaikan masalah sulit seperti kesehatan mental. Mahasiswa yang tahu cara merawat diri akan dapat mengikuti proses kuliah yang lebih baik sehingga dapat membawa hasil pendidikan mereka ke tengah masyarakt. “(Dan akhirnya), mereka bisa lulus dan menjadi juara untuk kebahagiaan mereka,” tutup Hughes. 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.