Berbagi Informasi :

Ayu Lestari

(Mahasiswa Prodi RMIK Univ. Veteran Bangun Nusantara)

Pada prinsipnya isi rekam medis adalah milik pasien, sedangkan berkas rekam medis (secara fisik) adalah milik rumah sakit atau institusi kesehatan. Permenkes No.269 tahun 2008 tentang Rekam Medis pada pasal 8 menyatakan bahwa berkas rekam medis itu merupakan milik sarana pelayanan kesehatan yang harus disimpan sekurang-kurangnya untuk jangka waktu 5 tahun terhitung sejak tanggal terakhir pasien berobat. Untuk tujuan itulah di setiap institusi pelayanan kesehatan, dibentuk Unit Rekam Medis yang bertugas menyelenggarakan proses pengelolaan serta penyimpanan Rekam Medis. Dalam pemaparan ini sudah jelas bahwa seorang perekam medis bertugas sebagai badan pengelolaan serta penyimpanan rekam medis.

Ketika mengisikan data identifikasi pasien ini perlu diperhatikan tentang keakuratan data pada identifikasi. Hal ini perlu dilakukan karena proses identifikasi ini merupakan proses pengumpulan data pertama sebelum pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan. Data ini juga yang menjadikan dasar untuk pelayanan medis dan pelaporan. Proses pelaporan ini menyangkut perekam medis yang mempunyai tugas dan tanggung jawab atas kelengkapan data identifikasi setiap pasien, maka dalam mengumpulkan data identitas pasien harus diperoleh data yang lengkap sehingga dalam proses pelayanan kesehatan akan berjalan dengan baik. Masalah-masalah yang timbul akibat dari kesalahan identifikasi dan pengumpulan data akan menyebabkan kerugian untuk fasilitas pelayanan kesehatan itu sendiri. Hal ini dikarenakan terjadinya pemborosan waktu, tenaga, materi ataupun pekerjaan yang tidak efisien.

Seperti kejadian baru-baru ini dan bahkan sampai saat ini yaitu isu virus corona yang yang menyebar di beberapa negara bahkan dunia yang menjadi pengaruh yang sangat besar bagi segala aspek kehidupan. Dalam kejadian ini Pada 30 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan Novel 2019. Penyakit Coronavirus (2019-nCoV) merebaknya darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Sebagai hasil dari deklarasi, Keluarga Klasifikasi Internasional WHO (WHOFIC) Komite Penasihat Klasifikasi dan Statistik Jaringan (CSAC) mengadakan pertemuan darurat, bertemu pada 31 Januari 2020 untuk membahas pembuatan kode khusus untuk coronavirus baru ini.

Klasifikasi Internasional baru Penyakit, Revisi Kesepuluh (ICD-10) kode darurat (U07.1, 2019-nCoV penyakit pernapasan akut) telah ditetapkan oleh WHO. Pada saat itu, Tim Klasifikasi WHO telah mencatat bahwa nama virus ‘2019-nCoV’ adalah sementara dan kemungkinan akan berubah (menjadi independen dari keluarga tanggal dan virus, dan untuk konsistensi dengan taksonomi virus internasional). Pada kasus ini bisa dipastikan bahwa tenaga medis sangat berperan penting, tak kalah dengan tenaga medis lainnya perekam medis juga memainkan perannya sampa-sampai badan kesehatan dunia  mengadakan pertemuan darurat untuk kode penyakit ini. Jadi dalam pengumpulan data yang akurat dan lengkap pelaporan perkembangan dan persebaran virus ini bisa diakses oleh siapapun. Sehingga jika mengalami keterlambatan pengumpulan data maka perbaruan data yang sudah terkumpul akan langsung masuk ke data peningkatan atau pemulihan pasien karena diagnosis penyakit ini dimodifikasi untuk pelaporan data.

Untuk pelaporan data ini data rekam medis tetap dirahasiakan karena data rekam medis tetaplah sebuah privasi yang tidak dibeberkan untuk umum. Hanya saja data yang berfungsi dalam pelaporan adalah data hasil diagnosis dengan tidak mengikutsertakan biodata pasien.

Jadi dapat disimpulkan bahwa data rekam medis sangatlah penting untuk mengetahui persebaran virus corona. Bukan itu saja, tetapi data ini juga sangat penting untuk klaim BPJS yang artinya dapat berfungsi untuk keberlanjutan penanganan pasien. Walaupun pada dasarnya tindakan penanganan pasien sangatlah penting tetapi penanganan juga bisa berdasarkan persetujuan pasien atau keluarga pasien yang menyangkut keadaan dan diagnosis serta data rekam medis

DAFTAR PUSTAKA

  1. Pattipeilohy, Ferlina Mauren.2011. “Tinjauan lama waktu pendistribusian rekam medis dilihat dari lokasi penyimpanan di rsj dr. Soeharto heerdjan”. https://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-NonDegree-4707-FERLINA_MAUREN.pdf. Diakses pada Minggu 15 Maret 2020 Pukul 06.24 WIB
  2. WHO,2020. “Kode ICD-10-CM baru untuk Novel Coronavirus 2019 (COVID-19), 1 Oktober 2020Efektif: 20 Februari 2020”. https://www.cdc.gov/nchs/data/icd/Announcement-New-ICD-code-for-coronavirus-2-20-2020.pdf. Diakses pada Minggu 15 Maret 2020 Pukul 22.11 WIB

By admin

One thought on “Kasus Analisis Rekam Medis dalam Pengumpulan Data Penyebaran Virus Corona”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.