Berbagi Informasi :

Danniar Candrawati

(Mahasiswa Prodi RMIK Univ. Veteran Bangun Nusantara)

Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia, terbukti dari berbagai cara dilakukan orang untuk mendapatkan taraf kesehatan yang prima. 

Bila seseorang menderita sakitbiasanya mereka akan segera berusaha mengatasi dan mengobati penyakitnya hingga sembuh. Demi mencapai kesembuhan yang diharapkan seseorang memerlukan bantuan dari pihak lain yaitu Rumah Sakit sebagai institusi yang berwenang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat luas. Seiring dengan semakin pedulinya masyarakat terhadap kesehatannya, semakin tinggi pula tuntutan masyarakat atas mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit khususnya dari segi pelayanan prima dalam bentuk komunikasi yang baik saat proses pendaftaran yang merupakan salah satu proses awal dari alur rekam medis.

Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang akan ditawarkan kepada konsumennya. Konsumen dalam hal ini juga menyangkut dua sisi yaitu konsumen internal dan konsumen eksternal. Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar individu yang bekerja di rumah sakit, baik hubungan secara horisontal ataupun hubungan secara vertikal. Hubungan yang terjalin antar tim multidisplin termasuk tenaga rekam medis, unsur penunjang lainnya, dan unsur adminitrasi sebagai provider merupakan gambaran dari sisi konsumen internal.

Sedangkan konsumen eksternal lebih mengarah pada sisi menerima jasa pelayanan, yaitu pelanggan baik secara individual, kelompok, keluarga maupun masyarakat yang ada di rumah sakit. Seringkali hubungan buruk yang terjadi pada suatu rumah sakit, diprediksi penyebabnya adalah buruknya sistem komunikasi antar individu (interpersonal) yang terlibat dalam sistem tersebut. Komunikasi antara staf rumah sakit  dengan pasien dan keluarga pun harus  dilakukan komunikasi secara efektif.  Komunikasi efektif merupakan komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap (attidute change)  pada orang yang terlibat dalam komunikasi.

Contoh komunikasi efektif dalam pelayanan dapat dilihat dari komunikasi non-verbal yang berwujud gesture, attitude dan ekspresi wajah staf rumah sakit khususnya tenaga rekam medis yang berada dalam posisi pendaftaran. Unit pendaftaran yang menjadi citra awal pemberian pelayanan tentunya sangat menentukan kondisi psikologis pasien dalam penerimaannya. Ketika tenaga rekam medis memberikan bentuk komunikasi non-verbal yang kurang baik seperti kurang ramah, tidak informative dan kurang komunikatif, tentunya akan berpengaruh pada citra pelayanan rumah sakit tersebut. Berbeda dengan pelayanan prima yang diberikan oleh tenaga rekam medis yang memberikan komunikasi non-verbal baik, tentunya akan berpengaruh pada kesan pasien untuk berobat kembali di rumah sakit tersebut.

Selain komunikasi yang baik, meningkatkan mutu dan standarisasi pada manajemen informasi juga tak kalah penting dalam kelancaran pelayanan kinerja petugas medis kepada pasien dengan lebih efektif. Dua hal ini saling berkaitan dan tidak bisa lepas untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang prima dan mumpuni.

Informasi diperlukan untuk memberikan, mengordinasikan, dan juga mengintegrasikan pelayanan rumah sakit. Hal ini meliputi ilmu pengasuhan pasien secara individual, asuhan yang diberikan. dan kinerja staf klinis. Informasi merupakan sumber daya yang harus dikelola secara efektif oleh pimpinan rumah sakit seperti halnya sumber daya manusia, material, dan finansial. Setiap rumah sakit berupaya mendapatkan, mengelola, dan menggunakan informasi untuk meningkatkan atau memperbaiki hasil asuhan pasien, kinerja individual, serta kinerja rumah sakit secara keseluruhan.

Walaupun komputerisasi dan teknologi lainnya meningkatkan efisiensi, prinsip manajemen informasi yang baik tetap berlaku untuk semua metode, baik berbasis kertas maupun elektronik. Standar-standar ini dirancang menjadi kompatibel dengan sistem non-komputerisasi dan teknologi masa depan. Informasi rumah sakit terkait asuhan pasien sangat penting untuk komunikasi antarstaf klinis yang didokumentasikan dalam rekam medis. Rekam medis adalah bukti tertulis (kertas/eletronik) yang merekam berbagai informasi kesehatan pasien seperti temuan hasil asesmen, rencana asuhan, rincian pelaksanaan asuhan dan pengobatan, catatan perkembangan pasien terintegrasi, serta ringkasan kepulangan pasien yang dibuat oleh profesional pemberi asuhan (PPA).

Dengan begitu, tujuan pengelolaan rekam medis dan informasi kesehatan adalah untuk menunjang ketertiban administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang didukung oleh suatu sistem pengelolaan rekam medis yang cepat, tepat, bernilai, dapat dipertanggungjawabkan, serta berfokus pada pasien dan keselamatan pasien secara terintegrasi yang tentunya tanpa melupakan komunikasi yang efektif dan baik guna menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu.

Daftar Pustaka

  1. Harahap, M. Taufik. 2018. Manajemen Informasi Dan Rekam Medik (MIRM). Rekam Kesehatan. Dilihat 15 Maret 2020. <https://rekamkesehatan.com/manajemen-informasi-dan-rekam-medik-mirm/#.Xm8jV3IzbIU>
  2. Wulan, S.KM., M.KM., Widya Ratna. 2019. Teknik Komunikasi Tenaga Rekam Medis Dalam Pelayanan Prima. Infokes. Dilihat 16 Maret 2020. <https://infokes.dinus.ac.id/2019/12/18/teknik-komunikasi-tenaga-rekam-medis-dalam-pelayanan-prima/>

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.