Berbagi Informasi :

Noor Alis Setiyadi, Dr. PH.

(Department of Public Health, Faculty of Health Science, UMS)

Kedua jenis penyakit tersebut merupakan penyakit infeksi yang sama-sama dikategorikan dalam airborne disease (penyakit yang penyebarannya melalui udara). Perbedaannya adalah terletak pada kuman penyebabnya. Jika covid-19 disebabkan oleh virus, TB disebabkan oleh bakteri (Mycobacterium tuberculosis).

Tentu banyak orang berpandangan “penyakit yang penularannya melalui udara” adalah kumannya berada diudara, bisa melayang-layang dan sebagainya. Padahal bukan itu yang dimaksud. Yang dimaksud dengan penularannya melalui udara adalah partikel udara, yaitu droplet (tetesan kecil) berukuran 1-5 microns diameternya, sangat-sangat kecil.

Tuberculosis (TB)

Penularan TB terjadi Ketika ada orang yang memiliki penyakit TB batuk, bersin atau bernyanyi. Hal ini terjadi dikarenakan aktifitas tersebut memiliki peluang pengeluaran droplet lebih banyak. Catatannya adalah seseorang yang mengeluarkan banyak basil (kuman) TB lebih menular daripada yang mengeluarkan sedikit atau tidak ada basil. Lebih jelasnya digambarkan dalam ilustrasi dibawah ini.

Gambar. Ilustrasi penularan kuman melalui droplet

Bagaimana infeksi bisa terjadi?. Infeksi terjadi Ketika seseorang menghirup droplet kuman TB yang mencapai alveoli paru-paru. Sebenarnya kuman TB bisa ada dimana-mana dan kemudian masuk ke badan manusia. Namun ada yang menjadi sakit dan ada yang tidak menjadi penyakit. Inilah yang disebut dengan orang dengan infeksi TB laten. Catatannya adalah orang dengan infeksi TB laten memiliki bakteri TB dalam tubuhnya tetapi tidak menyebabkan seseorang tersebut terkena TB, maka seseorang tersebut tidak menularkan infeksi ke orang lain. Secara jelas berpedaan orang dengan laten TB dan orang dengan penyakit TB dijelaskan dalam table dibawah ini:

Kematian akibat penyakit TB

Sebelum covid-19, TB tercatat sangat terkenal sebagai penyebab kematian yang hidup setelah HIV/AIDS, dimana 4000 orang meninggal tiap hari, dan 1,5 juta orang tiap tahun. Diperkirakan 10 juta orang terkena TB dan hamper setengah juta orang terkena TB resisten.

Corona virus 19 (Covid-19)

11 Maret 2019, Badan Kesehatan Dunia (WHO) dengan resmi menetapkan pandemic setelah virus ini menginfeksi 125.000 orang dan membunuh 45.000 lebih diseluruh dunia. The economist intelligent unit (EIU) menyampaikan bahwa peningkatan kasus covid-19 dimulai 31 desember 2019, namun saat itu belum diketahui jenis dan obat apa yang diberikan. Baru 9 januari 2020, WHO mendeklarasikan adanya coronavirus baru. Adapun gambaran kapan kasus ini muncul, proses diagnosis-pengobatan, sampai laporan kematian akibat virus ini digambarkan dalam gambar dibawah ini:

Kasus yang dimulai dari Wuhan, propinsi Hubei, China tercatat peningkatan temuan kasus menjadi 15.402 pada 12 Februari 2020. Kondisi kecepatan penularan dan menyebabkan kematian kemudian membuat dunia akhirnya memberi perhatian yang sangat serius. Apalagi 26 maret 2020, kasus ini menimpa 187 negara/Kawasan dengan kasus terkonfirmasi 468.905 dan jumlah kematian 21.200 penduduk.

Di Indonesia, tercatat 2 kasus saja pada 2 maret 2020 kemudian semakin bertambah mendekati akhir maret 2020 dimana laporan 26 Maret 2020 yang positif 790, sembuh 31 dan meninggal dunia sebanyak 58 orang. Grafik yang dirawat menujukkan kenaikan sangat tajam seperti dalam grafik dibawah ini:

Yang perlu diperhatikan adalah orang yang terinfeksi covid-19 mungkin tidak sakit sama sekali atau mendapatkan gejala-gejala ringan yang akan sembuh dengan sendirinya, meskipun lainnya menjadi sangat sakit dan sangat cepat. Lalu siapa saja kelompok beresiko terinfeksi covid-19 ini:

  1. Orang yang memiliki daya tahan rendah seperti orang dengan penyakit kanker
  2. Orang dengan kondisi memiliki diagnosis medis kronis
  3. Orang tua
  4. Anak-anak dan bayi

Pencegahan penyebaran covid-19

Cara mencegahya adalah dengan perilaku bersih yang merupakan pertahanan terhadap Sebagian besar virus karena partikel virus dapat bertahan selama beberapa waktu dipermukaan, jadi sering membersihkan dan mencuci tangan adalah hal penting. Adapun cara-cara lain adalah:

  1. Cucilah tangan sesering mungkin dan teliti dengan sabun
  2. Jika tidak menggunakan sabun dan air, gunakan cairan pembersih tangan berdasar alcohol. Sabun dan alcohol mampu memecah partikel virus secara terpisah tetapi dengan cara yang berbeda
  3. Hindari menyentuh sesuatu pada tempat umum sebisa mungkin
  4. Hindari menyentuh muka, karena ini dapat memindahkan virus dari tangan anda ke mata, hidung, dan mulut.
  5. Hindari menyentuh orang lain.
  6. Tutuplah mulut dan hidung dengan tisu atau siku tertekuk Ketika anda batuk dan bersin, buang tisu dan cuci tangan dengan seksama atau gunakan pembersih berbahan dasar alcohol.
  7. Sebisa mungkin untuk hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit
  8. Bersihkan dengan disenfektan secara sering permukaan yang sering disentuh setiap hari, seperti meja, gagang pintu, sakelar lampu, telepon, computer, toilet, dan keran air, wastafel.

Bagaimana system bekerjanya covid-19 menginfeksi orang

            Seorang dokter pernafasan Australia, Prof Jhon Wilson mengatakan bahwa orang yang terinfeksi Covid-19 dikategorikan menjadi 4:

  1. Kelompok tidak serius, yaitu orang yang memiliki sub-klinis dan yang memiliki virus tatapi tidak memiliki gejala
  2. Kelompok yang mendapati infeksi di saluran nafas atas. Gejalanya kemudian demam ringan seperti sakit kepala. Pada kondisi ini orang tersebut masih menularkan virus tetapi mungkin tidak menyadarinya.
  3. Kelompok terbesar adalah mereka yang positif Covid-19.
  4. Kelompok yang terdapat penyakit parah disertai pneumonia    

Harus tahu seperti apa virus corona (covid-19) ini cara kerjanya

Saat virus masuk ke tubuh dan berhasil mencapai batang paru-paru, tubuh mengalami batuk dan demam. Jika seseorang mengalami demam dan batuk artinya virus tersebut menyentuh batang paru-paru. Batang paru-paru merupakan saluran udara yang mengalirkan udara antara paru-paru dan bagian luar. Lapisan pohon pernafasan menjadi terluka kemudian menyebabkan peradangan yang berdampak iritasi disaluran jalan napas. Hanya setitik debu dapat mensimulasi batuk.

Tetapi jika keadaan ini menjadi lebih buruk, maka virus itu melewati lapiran saluran udara dan masuk ke tempat pertukaran gas yang berada di ujung saluran udara. Jika menimbulkan infeksi, maka paru-paru merespon dengan menuankan bahan radang ke dalam kantung udara yang ada di bagian bawah paru-paru.

Jika kantung udara ada peradangan, cairan yang masuk (curahan) bahan inflamasi (cairan dan sel inflamasi) ke paru-paru dan berujung menjadi pneumonia. Lanjutnya, paru-paru yang dipenuhi dengan bahan inflamasi tidak mampu mendapatkan cukup oksigen ke aliran darah, mengurangi kemampuan tubuh untuk mengambil oksigen dan menyingkirkan karbondioksida. Hal ini yang menjadi penyebab kematian biasa dengan pneumonia berat.

Apa reaksi tubuh saat ada infeksi di paru-paru?

Respon pertama-tama adalah tubuh mencoba dan menghacurkan (virus tersebut) dan membatasi replikasinya. Namun mekanisme ini dapat terganggu pada beberapa kelompok diantaranya orang dengan penyakit jantung dan paru; diabetes/ penyakit gula; manula/ usia lanjut usia. Usia adalah faktor prediksi utama resiko kematian akibat pneumonia. Jadi bertambahnya usia resiko terkena pneumonia meningkat seiring bertambahnya usia terlepas dari seberapa sehat dan aktif seseorang tersebut.

Bagaimana pasien dengan TB kaitannya terinfeksi Covid-19  

Infeksi paru-paru yang disebabkan oleh Covid-19 berbeda dengan kasus lain seperti TB yang disebabkan bakteri dan dapat diobati oleh antibiotic. Kasus pneumonia covid-19 cenderung mempengaruhi semua paru-paru, bukan hanya bagian kecil. Pada TB juga terdapat kerusakan pada paru meskipun penyebabnya adalah bakteri.       

            Pengalaman negara china dan korea selatan saat kejadian covid-19 dimana rumah sakit memprioritaskan penanganannya dibandingkan TB dikarenakan covid-19 merupakan pendemi dan jumlah pasien yang ribuan. Laboratorium juga terganggu dan penanganan TB rutin termasuk TB resisten juga menjadi kacau termasuk diagnose TB terjadi delay atau keterlambatan. Keertan Dheda, seorang ahli TB dari universitas Cape Town mengatakan bahwa mungkin akan terjadi terjadi lonjakan insiden TB dikarenakan keterlambatan diagnosis dan penularan yang lebih tinggi.

Selain itu, pasien TB juga cenderung memiliki kondisi komorbiditas (hidup yang meningkatkan kerentanan mereka) seperti kekurangan gizi, HIV. Silicosis, diabetes, sosioekonomi rendah, dan merokok. Terjadi di USA bahwa kebanyakan pasien TB dalam posisi tidak tersedia makanan berlebih atau kehilangan pekerjaan. Hal ini akan mempengaruhi pendapatan yang berujung pada turunya status gizi bagi pasien TB. Aktifis TB mengatakan bahwa kerusakan paru-paru dan Riwayat TB menjadi resiko tinggi terhadap pandemic Covid-19 ini.

Berikutnya masalah pendanaan. Dana untuk penanganan TB berpotensi dialihkan ke Covid-19. Negara-negara akan memangkas pengeluaran untuk TB karena kerugian ekonomi yang sangat besar karena Covid-19. 

Daftar Pustaka

  1. https://www.cdc.gov/tb/education/corecurr/pdf/chapter2.pdf
  2. https://www.newscientist.com/term/covid-19/
  3. https://www.eiu.com/n/
  4. https://www.covid19.go.id/
  5. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/03/25/data-terkini-kasus-corona-di-indonesia-rabu-253
  6. https://lungfoundation.com.au/patients-carers/lung-health/coronavirus-disease-covid-19/what-you-need-to-know/
  7. https://www.theguardian.com/world/2020/mar/24/coronavirus-what-happens-to-peoples-lungs-if-they-get-covid-19
  8. https://www.forbes.com/sites/madhukarpai/2020/03/17/covid-19-and-tuberculosis-we-need-a-damage-control-plan/#650874a9295c

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.