Berbagi Informasi :

Orang dengan gangguan lambung, seperti maag dan gastroesophageal reflux disease (GERD), kerap bermasalah saat perut kosong. Lantas, bagaimana mereka sebaiknya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan?

Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan gastroenterologi, Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa orang dengan maag dan GERD tetap bisa menjalankan ibadah puasa.

Maag dan GERD merupakan penyakit pencernaan yang berurusan dengan meningkatnya produksi asam lambung. Pada orang dengan maag, meski mengalami peningkatan, namun asam lambung tetap berada di lambung. Berbeda dengan GERD, di mana selain mengalami peningkatan produksi, asam lambung turut naik ke area esofagus atau berbalik arah.

Menurut Ari, prinsip puasa untuk pengidap GERD maupun maag akan serupa. Dia memberikan beberapa catatan agar puasa pengidap GERD maupun maag tetap lancar.

1. Hindari makanan berlemak saat sahur

Pangan serba digoreng memang sangat menggoda selera. Penyajiannya pun mudah, terlebih untuk sahur yang waktunya terbatas. Namun, menu serba goreng atau berlemak tidak disarankan untuk mereka yang memiliki GERD dan maag.

Konsumsi makanan berlemak bisa menimbulkan begah dan dikhawatirkan bisa menimbulkan luka serta rasa tidak nyaman.

Alih-alih gorengan, Ari menyarankan untuk mengonsumsi makanan bertekstur lembut dan tidak berlemak seperti sup dan makanan rebus.

2. Tidak langsung tidur setelah sahur

Rasa kantuk setelah santap sahur membuat sebagian orang memilih melanjutkan tidur hingga jelang waktu bekerja. Pengidap maag maupun GERD disarankan tidak langsung tidur setelah sahur. Mengapa?

“Habis sahur langsung tidur, langsung refluks [asam lambung naik],” kata Ari.

Setelah selesai makan, makanan akan bertahan di lambung selama 6-8 jam lalu turun ke usus 12 jari. Jika ingin tidur, Ari menganjurkan untuk memberikan jeda setidaknya dua jam.

Ambil juga posisi tidur setengah duduk untuk mencegah asam lambung naik ke esofagus. Posisi tidur seperti ini membuat asam lambung tidak naik berkat bantuan gaya gravitasi.

3. Berbuka dengan yang manis

Jargon ‘berbuka-lah dengan yang manis’ ini tampaknya pas disematkan buat pengidap GERD dan maag. Saat kondisi lambung kosong, makanan manis terbilang aman dikonsumsi.

Ari menyarankan berbuka puasa dengan kurma dalam jumlah ganjil seperti ajaran Rasulullah SAW.

Hindari berbuka dengan makanan yang terlalu asam, terlalu pedas, berlemak, atau makanan yang banyak mengandung gas.

4. Konsumsi makanan secara bertahap

Banyak orang langsung menuju menu utama nasi beserta lauk pauknya sesaat setelah selesai menyantap menu takjil. Namun, cara ‘langsung hajar’ seperti ini tak disarankan bagi pengidap maag dan GERD.

Ari menyarankan sebaiknya konsumsi makanan secara bertahap. Misalnya, berbuka puasa dengan takjil secukupnya. Lantas, makan malam dengan porsi sewajarnya.

“Lambung dalam kondisi kosong, kalau konsumsi berlebihan nanti dilatasi lambung, mengembang tiba-tiba,” imbuhnya.

Dilatasi lambung menimbulkan sensasi penuh dan nyeri perut. Kesempatan puasa, lanjutnya, jadi kesempatan buat mengelola waktu makan agar lebih teratur dan mengendalikan jumlah atau porsi makanan. Harapannya, GERD atau maag bisa lebih terkendali.

5. Berpuasa saat maag terkendali

Catatan berbeda ia berikan untuk pengidap maag akut. Maag akut adalah kondisi lapisan lambung mengalami peradangan yang timbul secara mendadak.

Disarankan, mereka yang mengalami maag akut fokus pada pengobatan terlebih dahulu baru berpuasa.

“Kalau terjadi mual muntah, obati dulu baru bisa puasa,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.