Berbagi Informasi :

Anak dan bayi rentan terserang penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya yang masih lemah. Beberapa cara dilakukan untuk meningkatkan sistem imun dengan pemberian ASI eksklusif hingga usia 2 tahun, serta makanan bergizi. Selain itu meningkatkan imunitas pada buah hati juga dengan pemberian imunisasi.

Plt Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Dokter Prima Yosephine mengatakan, pemerintah Indonesia memiliki program imunisasi wajib untuk bayi dan anak. Imunisasi program diwajibkan pada setiap orang dalam rangka melindungi warga negara dari penyakit. Vaksin untuk program juga dijamin ketersediaannya oleh pemerintah.

“Imunisasi sudah terbukti sebagai intervensi kesehatan yang efektif dapat melindungi kesehatan anak-anak, dan mencegah kematian anak,” kata Prima dalam diskusi virtual Pekan Imunisasi Dunia, Kamis (29/4).

Imunisasi pada anak juga sebaiknya diberikan sesuai jadwal dan tak melewatkan setiap tahapnya. Tahapan imunisasi pada anak juga disesuaikan dengan usia anak. Berikut imunisasi yang diberikan pada anak sesuai usianya.

Imunisasi dasar pada bayi

– Usia 0 bulan

Pada usia ini, bayi diberikan imunisasi hepatitis B. Biasanya suntik imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir setelah 12 jam kelahiran dan diberikan oleh dokter atau bidan.

– Usia 1 bulan

Di usia 1 bulan, bayi diberikan imunisasi BCG dan oral polio vaccine (OPV).
Imunisasi BCG diberikan dengan cara disuntik, sementara OPV diberikan secara oral. BCG bertujuan untuk mencegah penyakit tuberkulosis, dan OPV mencegah polio pada anak.

– Usia 2-4 bulan

Pada usia ini, bayi diberikan imunisasi DPT, Hepatitis B, HiB 1, HiB 2, HiB 3, OPV 2, OPV 3, OPV 4.

Imunisasi DPT diberikan untuk mencegah penyakit difteri pada anak. Kemudian pemberian imunisasi hepatitis B, kembali diberikan untuk menambah booster imun untuk mencegah penyakit hepatitis. Sementara vaksin HiB mencegah meningitis dan pneumonia pada bayi sehingga diberikan setiap bulannya sejak usia 2-4 bulan. Begitu juga dengan imunisasi OPV.

Khusus pada usia 4 bulan, bayi diberikan imunisasi IPV untuk mencegah polio dengan cara disuntik.

“Sering kali pada usia ini orang tua terlewat memberikan imunisasi, kalau terlewat, sesegera mungkin kejar imunisasi ke dokter atau puskesmas,” ucap Prima.

– Usia 9 bulan

Pada usia ini, anak diberikan imunisasi MR untuk mencegah terjadinya penyakit campak.

Imunisasi lanjutan

Setelah imunisasi pada usia bayi terpenuhi, ada beberapa imunisasi lanjutan yang juga merupakan program wajib pemerintah. 


- Usia 18 bulan 
Pada usia ini, anak akan diberikan kembali vaksin DPT, Hepatitis B, HiB 4, dan MR2. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh setelah sebelumnya diberikan imunisasi yang sama. 

Imunisasi booster ini dapat diberikan sejak memasuki usia 12 bulan. Namun sebelumnya anak harus mendapatkan imunisasi primer dulu sebelum mendapatkan booster.

Imunisasi usia sekolah


Selain diberikan pada balita, imunisasi juga diberikan pada anak usia sekolah. Imunisasi usia sekolah juga merupakan salah satu program imunisasi wajib pemerintah. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) diberikan pada anak Sekolah Dasar kelas 1 SD, 2 SD, 5 SD, dan 6 SD. 


Pada kelas 1 SD, anak diberikan imunisasi campak (MR) dan imunisasi tetanus (DT). Kemudian di kelas 2 dan kelas 5 kembali diberikan imunisasi tetanus (DT). 


Beberapa daerah di Indonesia juga mewajibkan imunisasi HPV pada anak di kelas 5 SD dan 6 SD. Imunisasi HPV dilakukan dengan tujuan menghindari infeksi virus HPV pada laki-laki dan perempuan. 

“Imunisasi HPV hanya diberikan di beberapa daerah kabupaten/kota terpilih, tapi warga bisa mendapatkan vaksin HPV berbayar di puskesmas atau rumah sakit,” kata Prima. 

Imunisasi Ganda

Tak jarang orang tua melewatkan jadwal imunisasi buah hati sehingga anak tak mendapat perlindungan optimal dari penyakit. 

Ketua Satgas Imunisasi IDAI Cissy B. Kartasasmita mengatakan, jika terjadi demikian maka sebaiknya orang tua segera ‘mengejar’ imunisasi yang terlewat. Orang tua bisa menyegerakan imunisasi di rumah sakit atau puskesmas sekitar, namun pastikan orang tua mengetahui imunisasi apa saja yang telah diberikan pada anak. 


”Kalau tertunda, maka catch-up, misalnya ketika usia 2 bulan tak dapat imunisasi, maka segera kejar saat usianya 3 bulan,” kata Cissy. 


Cissy juga menekankan, imunisasi dapat diberikan ganda pada anak untuk mengejar ketertinggalan. Imunisasi ganda juga terbukti aman dilakukan, disesuaikan dengan usia anak. 


”Imunisasi ganda dan vaksin kombinasi sangat dianjurkan, aman, dan bisa mengurangi kunjungan ke posyandu atau puskesmas,” katanya. 

Namun selalu konsultasikan dengan dokter atau pihak puskesmas jika ingin memberikan imunisasi ganda. Sebab imunisasi ganda harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan usia anak. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.