Berbagi Informasi :

Tanggal 10 Mei diperingati sebagai World Lupus Day atau Hari Lupus Sedunia. Lupus merupakan jenis penyakit autoimun yang menyerang berbagai organ tubuh. Penyakit ini juga dikenal dengan julukan ‘Penyakit Seribu Wajah’ sebab memiliki gejala yang mirip penyakit lain dan sulit dideteksi.

Peringatan Hari Lupus Sedunia bertujuan untuk mengajak seluruh odapus (orang dengan lupus) maupun organisasi yang menaungi gerakan terkait lupus untuk mendorong kesadaran publik dan pemahaman tentang lupus. Tema ‘Make Lupus Visible’ diambil untuk menunjukkan pada dunia ‘seribu wajah’ lupus dan dampaknya melalui media sosial.

Survei global yang diinisiasi oleh World Lupus Federation menemukan separuh responden melaporkan penurunan akses setidaknya ke satu aspek perawatan lupus selama tiga bulan terakhir. Penurunan ini termasuk pada akses dokter lupus atau rheumatologist (36 persen), tes medis (29 persen), infus untuk pengobatan (24 persen) dan obat untuk lupus (17 persen).

Survei mampu menghimpun informasi dari 6ribu lebih responden odapus di 85 negara. Lebih lanjut, ternyata 10 persen responden telah terinfeksi Covid-19.

“Orang dengan lupus seluruh dunia terus mengalami hambatan signifikan dan sebagai hasil, ada kondisi kesehatan yang serius karena pandemi Covid-19. Ada banyak penyebab tantangan dengan akses pada perawatan, termasuk kekhawatiran pergi ke dokter karena takut risiko infeksi Covid-19,” kata Paul Howard, direktur Lupus UK, mengutip dari laman World Lupus Day.

Kemudian terkait vaksin, sebanyak 75 persen responden mengaku khawatir akan vaksin Covid-19 termasuk kemungkinan efek samping dan interaksi vaksin dengan obat lupus.

Akan tetapi, Karen H, Costenbader, direktur Lupus Program di Brigham dan Women’s Hospital, AS, menyarankan odapus tetap menerima vaksin disertai pertimbangan tertentu. Perlu ada diskusi dengan dokter yang menangani berkaitan dengan regimen obat saat ini dan pengaruhnya pada vaksin juga waktu terbaik untuk menerima vaksin.

“Ini adalah langkah ekstra lain yang harus diambil oleh penderita lupus selama masa sulit ini karena kita semua berusaha untuk ‘kembali normal’ sebisa mungkin,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.