Berbagi Informasi :

Pada Senin (14/6) legenda bulutangkis Markis Kido meninggal saat bermain bulutangkis di Tangerang, Banten. Kematian mendadak seseorang kerap dikaitkan dengan silent killer disease atau penyakit yang membunuh dalam senyap.

Apa itu ‘silent killer‘? Dan penyakit apa saja yang termasuk ‘silent killer‘?

Dalam Collins Dictionary, ‘silent killer‘ diartikan sebagai penyakit yang tidak memiliki gejala atau indikasi yang terlihat kentara.

Tanpa Anda ketahui, ada penyakit-penyakit yang diam-diam siap menggerogoti tubuh tanpa menimbulkan gejala berarti. Jika tidak diwaspadai, penyakit-penyakit ini bisa menimbulkan situasi serius bahkan fatal.

Berikut beberapa penyakit yang termasuk ke dalam ‘silent killer’.

1. Hipertensi

Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi jadi faktor risiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A Damay menyebut, hipertensi berisiko mengakibatkan serangan jantung, aorta diseksi, dan stroke pendarahan. Semuanya menyebabkan kematian mendadak.

Berdasar data Riskesdas 2018, sekitar 34 persen orang Indonesia memiliki hipertensi. Dari sekian banyak penderita hipertensi, 32 persen tidak rutin minum obat. Padahal, obat berfungsi mengontrol tekanan darah.

“Lebih dari 50 persen penderita tidak minum obat dengan alasan mereka merasa sehat. Hal ini membuat hipertensi menjadi pembunuh senyap atau silent killer,” ujar Vito melalui pesan singkat, Selasa (15/6).

2. Kanker Kulit

Kanker bisa menyerang semua organ tubuh, termasuk kulit. Kanker kulit timbul saat terjadi pertumbuhan sel kulit secara tidak normal. Kebanyakan kasus kanker kulit terjadi akibat paparan sinar matahari berlebihan.

Mengutip laman Mayo Clinic, ada empat tipe kanker kulit, yakni karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, melanoma, dan kanker kulit non-melanoma.

Dari beberapa tipe kanker kulit, melanoma memiliki gejala yang kerap tidak disadari. Dalam beberapa kasus, melanoma timbul berawal dari tahi lalat. Karena dianggap sebagai tahi lalat biasa, tidak ada tindak lanjut sehingga semakin lama membesar dan merusak jaringan sekitarnya.

3. Diabetes

Setahun terakhir, diabetes mendapat sorotan berkaitan dengan Covid-19. Penyakit ini jadi salah satu penyakit komorbid yang bisa memperparah kondisi orang yang terinfeksi virus corona.

“Diabetes ini penyakit progresif dan kronis. Kesadarannya harus tetap dikumandangkan. Saat ini, penderita diabetes bukan makin sedikit, tapi makin banyak,” ujar ahli penyakit dalam, dr Sidartawan Soegondo, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, yang perlu diperhatikan, diabetes juga jadi pintu masuk untuk penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, stroke, neuropati, juga ketoasidosis diabetik yang bisa mengancam nyawa.

4. Fatty liver disease

Fatty liver disease atau perlemakan hati berarti penumpukan lemak di organ hati. Dalam dunia medis, perlemakan hati juga dikenal sebagai hepatic steatosis.

Biasanya, orang yang mengonsumsi alkohol berlebih dalam jangka panjang berisiko mengalami perlemakan hati. Namun, tidak menutup kemungkinan perlemakan hati juga terjadi pada mereka yang tidak banyak mengonsumsi alkohol.

Dalam beberapa kasus, orang merasa aman dari perlemakan hati karena tidak banyak bersentuhan dengan alkohol. Mengutip dari WebMD, perlemakan hati pada nonkonsumen alkohol kemungkinan bisa terjadi akibat faktor genetik, yang disertai faktor-faktor lain seperti obesitas, kadar kolesterol tinggi, usia lanjut, sleep apnea, hipotiroidisme, malnutrisi dan penurunan berat badan secara drastis.

Jika tidak mendapat penanganan yang tepat, perlemakan hati akan menimbulkan komplikasi antara lain penumpukan cairan pada abdomen, pembengkakan pembuluh darah esofagus yang bisa pecah, kanker hati, dan gagal hati (liver failure).

4. Osteoporosis

Tubuh ditopang oleh susunan tulang yang terus-menerus rusak tetapi ada tulang-tulang baru yang siap menggantikan. Namun, jika seseorang mengalami osteoporosis, tulang rusak lebih cepat daripada proses perbaikannya. Tulang jadi kurang padat dan mudah keropos.

Mengutip dari Healthline, osteoporosis membuat tulang rentan retak dan patah. Tanpa penanganan serius, mobilitas pasien bisa sangat terbatas, rasa sakit, depresi yang kemudian menurunkan kualitas hidup.

6. Kanker paru

Covid-19 begitu menakutkan, tetapi Anda tidak boleh lupa bahwa ada pembunuh-pembunuh lain yang tidak kalah menakutkan. Salah satunya kanker paru.

Pada 2018, Globocan menyebut kanker paru merupakan kanker yang paling banyak ditemukan pada pria dan wanita di seluruh dunia dibanding kanker jenis lainnya. Penyakit ini pula yang jadi penyebab utama kematian.

Data tak jauh berbeda juga ditemukan di Indonesia. Berdasar data Indonesian Cancer Information & Support Center (CISC), kanker paru jadi kanker pembunuh nomor satu dengan total 14 persen kematian.

Jenis kanker satu ini tergolong mematikan sebab sebagian besar pasien terdiagnosis pada stadium lanjut. Angka harapan hidup pasien kanker paru terbilang lebih rendah daripada pasien kanker lain yakni hanya 12 persen.

7. Kanker kolon

Tak hanya kanker paru, diagnosis kanker usus kerap terjadi saat kanker sudah memasuki stadium lanjut. Dokter spesialis penyakit dalam Susanna Hilda Hutajulu menyebut, perlu waktu yang panjang hingga sel kanker bermanifestasi dan ganas. Namun, kini kanker kolon bisa muncul di usia muda.

Dia pun menekankan untuk dilakukan deteksi dini, terlebih pada mereka yang memiliki faktor risiko antara lain, riwayat keluarga dengan kanker, diet rendah serat, konsumsi daging merah dan olahan berlebihan, konsumsi alkohol dan merokok, serta obesitas dan gangguan metabolik.

“60 persen kematian akibat kanker kolorektal dapat dicegah dengan skrining,” kata Susanna beberapa waktu lalu.

8. Kanker payudara

Di Indonesia, kanker payudara memiliki reputasi sebagai salah satu kanker paling mematikan. Namun, deteksi dini akan membantu proses penyembuhan dan mencegah kematian. Tanpa harus ke fasilitas kesehatan, perempuan bisa melakukan deteksi dini dengan metode Sadari (pemeriksaan payudara sendiri).

Sadari dilakukan dengan mencermati perubahan bentuk dan permukaan kulit payudara, kemudian pada area puting pada 7-10 hari setelah menstruasi. Jika Anda menemukan perubahan sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter.

Sonar Soni Panigoro, dokter spesialis bedah onkologi, menyebut ada beberapa manfaat deteksi dini kanker payudara seperti peluang sembuh dan angka harapan hidup tinggi, biaya pengobatan lebih murah, dan diagnosis jenis kanker. Kesembuhan jadi hal yang nyaris mustahil saat kanker sudah memasuki stadium lanjut bahkan menyebar ke jaringan lain.

“Di stadium metastatik agak sulit melakukan penyembuhan, tapi untuk paliatif atau untuk memperbaiki kualitas hidup pasien,” ungkap Sonar beberapa waktu lalu.

9. Penyakit jantung koroner

Penyakit arteri koroner (coronary artery disease) kerap disebut penyakit jantung koroner. Mengutip dari laman CDC, penyakit jantung koroner disebabkan penumpukan plak pada dinding arteri yang menyuplai darah ke jantung dan organ tubuh lain.

Plak ini berasal dari kolesterol dan substansi lain pada arteri. Penumpukan ini akan mempersempit aliran darah lalu lama-kelamaan akan terjadi penyumbatan atau aterosklerosis.

10. Obstructive sleep apnea

Sebaiknya mulai sekarang Anda tidak lagi menyepelekan kebiasaan mengorok atau mendengkur. Bahkan, praktisi kesehatan tidur, dokter Andreas Prasadja kerap menemukan anggapan bahwa mengorok berarti seseorang tidur dengan nyenyak.

Justru mengorok bisa mengakibatkan obstructive sleep apnea (OSA) yakni gangguan tidur yang mengakibatkan henti napas. “Menurut sebuah penelitian, prevalensi OSA di Indonesia diperkirakan sekitar 17 persen. Sangat penting untuk menyadari bahwa ketika Anda terus mendengkur, itu bukan tanda tidurnya nyenyak,” tutur Andreas lewat sebuah pernyataan resmi.

OSA ditandai dengan gangguan atau henti napas berulang sepanjang tidur sehingga oksigen gagal masuk paru-paru. Selain itu, OSA juga ditandai dengan tersedak atau napas tersengal saat tidur, dengkuran keras dan permanen, lelah berlebih, dan konsentrasi buruk di siang hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.