Berbagi Informasi :

Kementerian Kesehatan Arab Saudi menyetujui penggunaan vaksin corona campuran untuk dosis pertama dan kedua. Warga diizinkan mendapatkan suntikan dari vaksin berbeda.

“Persetujuan itu sesuai dengan studi ilmiah internasional yang menunjukkan kemungkinan pemberian dua dosis vaksin virus corona yang berbeda secara aman dan efektif dalam memerangi virus, dengan efektivitas yang ingin dicapai dari dosis kedua,” kata pernyataan Kemenkes Saudi, di akun Twitter.

Melansir Saudi Gazette, Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa semua orang, yang berusia 50 tahun ke atas dan sudah melewati 42 hari suntikan dosis pertama, dapat menerima suntikan dosis kedua.

Tak hanya Saudi, pada 17 Juni lalu, Malaysia juga mempertimbangkan penggunaan vaksin campuran untuk meningkatkan efikasi.

Vaksin campuran atau metode yang disebut “vaksinasi heterologi” ini sudah mulai diteliti di berbagai negara.

Menurut Menteri Sains Malaysia, Khairy Jamaluddin, sejauh ini data-data menunjukkan metode penggabungan dua jenis vaksin dapat meningkatkan antibodi dan efikasi untuk melawan varian Covid-19 yang beragam.

“Kami punya data nyata dari Jerman mengenai vaksinasi heterologi menggunakan AstraZeneca untuk dosis pertama dan vaksin Pfizer untuk dosis kedua, menunjukkan peningkatan antibodi dan lebih efektif melawan varian-varian,” ujar Khairy, seperti dikutip Malay Mail.

Namun pemerintah Malaysia tetap berhati-hati dan masih berupaya mengumpulkan data agar tak terkesan terburu-buru mengambil keputusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.