Berbagi Informasi :

Peluang kesembuhan anak yang terinfeksi Covid-19 mencapai 95 persen. Itu terjadi jika anak tidak terlambat mendapat perawatan medis dan tidak memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Dokter spesialis anak di RSUP Sanglah di Denpasar, Bali, Dr. dr. Ni Putu Siadi Purniti mengatakan, masih banyak orangtua yang takut membawa anak ke dokter atau periksa swab jika mengalami gejala mirip Covid-19.

Kondisi itu yang justru meningkatkan risiko kematian pada anak akibat infeksi virus corona tersebut.

“Tingkat kesembuhan pada anak-anak yang kena Covid sebenarnya sembuh sampai 95 persen, asal tidak memiliki komorbid. Yang kita sering terima orang tua apabila anaknya sakit, mereka takut bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan.”

“Ada beberapa pasien yang kita terima sudah kondisi cukup berat. Jadi terpaksa dibawa ke instalasi gawat darurat,” kata dokter Siadi dalam siaran langsung Radio Kesehatan Kemenkes, Senin.

Anak yang terlambat mendapat penanganan medis dan datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan berat bisa berujung alami kematian, imbuh dokter Siadi.

Terutama jika pasien memang memiliki penyakit penyerta seperti leukimia, penyakit ginjal, penyakit kronik pada paru dan kelainan jantung bawaan. 

“Ini harus hati-hati. Apabila dia ketemu orang yang akan menularkan (Covid), biasanya akan menjadi berat. Pengalaman saya di rumah sakit itu yang meninggal hampir semua memiliki komorbid,” tuturnya. 

Menurut dokter Siadi, anak-anak yang hanya mengalami gejala ringan kebanyakan memang yang tidak memiliki komorbid. Selain itu, anak juga cepat dilacak akibat orangtuanya yang lebih dulu terkonfirmasi positif Covid-19.  

“Kalau pada anak ada gejala tapi ringan, itu biasanya bisa sembuh dengan baik. Asalkan orangtuanya segera membawa anak-anaknya berobat ke dokter, ke fasilitas pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Jumlah kasus Covid-19 pada anak menyumbang sekitar 12 persen dari seluruh kasus nasional. Dokter Siadi mengatakan, kasus Covid pada anak paling banyak terjadi pada usia 7 – 12 tahun. Kemudian disusul remaja usia 16 – 18 tahun. 

“Saya kira semua rata-rata seperti itu. Kami di Bali juga seperti itu, anak-anak yang di atas 7 tahun lebih tinggi (jumlah kasusnya),” pungkas dokter Siadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.