Berbagi Informasi :

Tenaga kesehatan Indonesia sudah mulai disuntik dengan booster vaksin moderna. Beberapa orang mengalami efek samping atau KIPI.

Berbeda dengan sinovac, moderna dibuat dari mRNA atau protein spike dari virus Covid-19. Lalu apa perbedaan vaksin yang berasal dari mRNA dengan vaksin dari virus yang dinonaktifkan dan apa efek sampingnya saat disuntikan pada tubuh manusia?

Ines Atmosukarto, doktor molekuler dan biologi seluler dari Universitas Adelaide, Australia, menyebut pada dasarnya kedua jenis vaksin ini aman digunakan manusia untuk saat ini. Meski memang ada beberapa perbedaan, mengingat dua vaksin ini dibuat dari dua hal yang sedikit berbeda.

Misalnya kata dia, untuk vaksin Moderna yang diciptakan berbasis pada mRNA, merupakan vaksin yang dibuat dengan spike atau protein yang ada di permukaan virus.

Oleh karena itu, saat vaksin ini disuntikan sel-sel ditubuh akan langsung bekerja untuk mengenali spike tersebut. Dengan kata lain, produksi antibodi akan lebih cepat dilakukan.

“mRNA ini juga dikenali sebagai benda asing sehingga sistem imun terstimulasi dan akan melihat protein spike sebagai benda asing. Alhasil langsung terbentuk antibodi,” kata Ines.

Respon imun pun kata Ines hanya akan terfokus pada satu benda tersebut dan benda ini dipilih karena fungsinya adalah membuka jalan bagi virus untuk menginfeksi sel. Maka terbentuknya antibodi yang mengenali spike akan menghambat proses masuknya virus tersebut.

Sementara untuk teknologi inactivated vaccineadalah teknologi pembuatan vaksin Covid-19 yang berasal dari virus yang dilemahkan. Jadi kata Ines, tak hanya protein atau bagian spike dari Covid-19, tetapi keseluruhan dari virus itu yang digunakan.

“Itu ibaratnya yang disuntik adalah sop yang isinya semua bagian dari virusnya. Bukan hanya spike tetapi juga protein dan komponen lainnya. Alhasil sistem imun kita sibuk banget karena yang harus diolah bukan hanya spike tapi semua bagian virus lainnya,” jelas Ines.

Oleh karena itu, tubuh pun akan kurang fokus menciptakan antibodi untuk melawan Covid-19, sebab dia harus memproses dan mengenali keseluruhan dari virus itu terlebih dahulu.

“Alhasil antibodi terhadap spike yang merupakan kunci tadi lebih rendah sehingga proteksinya lebih rendah,” kata dia.

Meski begitu Ines menyebut tak ada vaksin yang buruk atau kurang berguna di saat pandemi ini. Memang setiap vaksin memiliki teknologi dan cara pembuatan sendiri.

Bahkan respon terhadap tubuh manusia pun akan berbeda meski vaksin yang disuntikan jenisnya sama.

Dia juga menyebut, untuk Moderna, sejauh ini efek yang dirasakan setelah vaksinasi pun tak jauh berbeda dengan vaksin lain.

“Ya rasa tidak enak, panas, ngilu, meriang itu karena sistem imun kita terstimulasi. KIPI tersebut sifatnya sementara. Setelah 24-48 jam biasanya hilang,” kata dia.

“Memang ada laporan myocarditis (inflamasi jantung) pada orang muda, umumnya laki-laku. Namun ini juga sementara. Setelah beberapa hari hilang. Jangan lupa penyakit Covid-19 malah menyebabkan myocarditis yang lebih lama,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.