Berbagi Informasi :

*Penulis : Faradilla Kurnia Ersami, Ferisma Cahyaningrum, Firliananda, Hasnikmatullah Suprabekty, Her Dinastya Desta Salyamadji, Intan Khofifah Devitasari, Nadya Daffa Camilla (Universitas Brawijaya)

Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, kesehatan mental menjadi perhatian bagi dunia kesehatan, apalagi masalah mental yang dihadapi oleh anak muda.

Masalahnya kesehatan mental yang dialami oleh anak muda, khususnya mahasiswa mengalami peningkatan yang signifikan selama pandemi Covid-19.

Hal tersebut bukan semata karena adanya pandemi. Namun, juga dipengaruhi oleh pembelajaran sekolah yang sementara dialihkan melalui jaringan atau daring.

Penelitian terkait kesehatan mental juga pernah dilakukan oleh (Fauziyyah, 2021) pada bulan April hingga Agustus 2020. Dari 4.010 responden mahasiswa di Indonesia yang menjalankan kuliah daring, sebanyak 55,1% responden mengalami stres dan rata-rata 40% mengalami kecemasan.

Berikut penyebab anak muda di masa pandemi Covid-19 mengalami masalah kesehatan mental.

  1. Stresor Bagi Mahasiswa

Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan dan diketahui jumlah stres serta kecemasan pada mahasiswa cukup tinggi, kita pasti bertanya-tanya sebenarnya stres pada mahasiswa itu wajar atau tidak? Mengingat banyak sekali faktor yang berpengaruh terhadap tingkat stres dan kecemasan yang terjadi. Lantas apa saja faktor yang memengaruhi?

Ada banyak faktor yang memengaruhi terjadinya stres dan kecemasan pada mahasiswa, diantaranya yaitu kurangnya dukungan dari keluarga, baik dukungan moral maupun fasilitas belajar; bertambahnya tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa, serta; pengaruh dari rekan yang tidak berpartisipasi dalam mengerjakan tugas kelompok, yaitu kegiatan yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama justru dikerjakan seorang diri tanpa dihiraukan oleh rekan kerja lain. Hal-hal yang semacam itu tentu bisa menjadi stresor tersendiri bagi mahasiswa. Maka, tidak menutup kemungkinan apabila hal itu terus berlanjut dalam waktu yang cukup lama, mereka dapat mengalami gangguan mental.

  1. Mahasiswa dan Usia Dewasa Muda

Rata-rata usia mahasiswa S-1 di Indonesia berkisar antara 18 hingga 24 tahun. Pada usia ini mereka tergolong pada usia dewasa muda yang merupakan peralihan dari masa remaja menuju dewasa. Ciri dari kelompok usia ini adalah memiliki ketegangan emosional, memiliki berbagai masalah, adanya rasa ketergantungan, perubahan nilai hidup, dan mulai menyesuaikan diri dengan cara hidup baru. Adanya rasa tanggung jawab atas masa depan serta adanya pikiran untuk bekerja atau berkarir sangat berpengaruh terhadap tingkat stres dan kecemasan pada mahasiswa. Banyaknya tekanan dan berbagai bentuk stresor membuat mahasiswa merasa tidak percaya diri dan tak jarang mereka cenderung memikirkan hal-hal buruk yang bisa terjadi pada masa depan mereka sehingga berdampak terhadap kesehatan mental.

Tak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut memang benar terjadi adanya, bahkan beberapa dari mahasiswa tidak menyadari apabila mereka sedang mengalami stres dan kecemasan. Adanya rasa gengsi, malu, dan kurang terbuka membuat mereka memendam masalahnya sendiri yang mengakibatkan adanya rasa tidak tenang dan merasa serba salah. Kemudian, pada akhirnya hal ini dapat memperparah kondisi mental mahasiswa.

  1. Dampak Stres dan Kecemasan pada Prestasi Mahasiswa

Dapat dilihat bahwa kesehatan mental memiliki peran penting dalam tingkat produktivitas mahasiswa di masa pandemi. Mahasiswa yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami penurunan hasil capaian belajar. Coba kita bayangkan bagaimana apabila stres dan kecemasan ini tidak bisa diatasi dengan baik. Apa mungkin mahasiswa bisa mencapai prestasi dalam bidang akademik dan nonakademik? Jawabannya tentu tidak. Hal ini dapat merugikan mahasiswa dan dapat mengecewakan orang yang telah menaruh harapan yang tinggi pada mereka. Lalu bagaimanakah cara menjaga kesehatan mental di kala pandemi?

Setiap masalah pasti ada solusinya, begitu juga dengan masalah kesehatan mental yang dialami mahasiswa selama pandemi Covid-19.

Upaya menjaga kesehatan mental sejak awal mempunyai tujuan agar kesehatan mental mahasiswa tetap terjaga. Beberapa cara yang dapat dilakukan mahasiswa, seperti melakukan manajemen tingkat kesehatan mentalnya baik secara internal maupun eksternal, sebagai berikut.

  1. Upaya internal yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif seperti berjalan-jalan di pagi hari dengan menghirup udara segar, membangun hubungan yang positif dengan teman atau keluarga, menjaga pola makan dan kesehatan tubuh, melakukan meditasi, self healing di tempat rekreasi atau wisata alam, dan berolahraga ringan. Aktivitas religi juga dapat dilakukan untuk meningkatkan sisi spiritual yang dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental mahasiswa.
  1. Upaya eksternal yang dapat dilakukan mahasiswa yaitu dengan meminta bantuan serta motivasi dari lingkungan sekitar mahasiswa seperti keluarga, pihak universitas, dosen, maupun teman-teman sejawat. Meminta bantuan pada pihak profesional juga dapat dilakukan, khususnya pihak profesional yang bergerak di bidang kesehatan mental, seperti konselor, psikolog, dan psikiater (Delviana dkk., 2020).

Referensi

  1. Erni, M. H., Delviana, E., Hilery, P. M., Naomi, N.M. 2020. ‘Pengeloalaan Kesehatan Mental Mahasiswa Bagi Optimalisasi Pemberajaran Online di Masa Pandemi Covid-19’, JURNAL SELARAS. Kajian Bimbingan dan Konseling Serta Psikologi Pendidikan, 3(2), pp.129-138.
  2. Fauziyyah, R., Awinda, R. C., Besral, B. 2021. Dampak Pembelajaran Jarak Jauh terhadap Tingkat Stress dan Kecemasan Mahasiswa selama Pandemi COVID-19. Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan, 1(2), pp. 113-123.
  3. Masyah, B. 2020. ‘Pandemi Covid 19 terhadap Kesehatan Mental dan Psikososial’, Mahakan Noursing, 2(8), pp. 353–362. Ridlo, I. A. 2020. ‘Pandemi COVID-19 dan Tantangan Kebijakan Kesehatan Mental di Indonesia’, Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental, 5(2), pp. 162-171.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.