Berbagi Informasi :

Super Spreader kerap muncul di tengah wabah penyakit, tak terkecuali COVID-19. Terlebih dengan sifat sangat menular seperti Omicron saat ini, perlukah waspada?

Terlepas dari varian Omicron yang disebut sangat cepat menular, COVID-19 secara umum mampu menyebar dari orang ke orang melalui tetesan droplet dari batuk dan bersin. Namun, para peneliti masih mencari tahu seberapa mudah COVID-19 menyebar mengingat ada sejumlah kasus yang menjuluki seseorang dengan sebutan ‘super spreader’.

Apa itu Super Spreader?

Dikutip dari CNBC, super spreader adalah istilah umum yang berarti seseorang yang dengan ‘keterlaluan’ menginfeksi sejumlah besar orang dengan virus. Atau dengan kata lain, super spreader merupakan orang yang bisa menyebarkan virus lebih efisien dibandingkan orang-orang lainnya.

Apa yang membuat seseorang menjadi super spreader?

Ada berbagai faktor yang menyebabkan seseorang bisa dijuluki super spreader. Umumnya faktor-faktor tersebut berhubungan erat dengan biologi.

Seseorang bisa menghasilkan lebih banyak virus maupun terinfeksi oleh jenis yang menyebar dengan cepat sehingga menyebabkan dirinya bisa menginfeksi banyak orang. Disamping itu, bila seseorang memiliki sistem kekebalan yang tidak begitu baik dan kemungkinan tidak bisa pulih secepat yang lainnya, orang tersebut bisa saja menyebarkan virus dalam periode yang lebih lama.

“Kemungkinan lainnya yaitu tempat yang mereka kunjungi,” kata Robert Amler, Dekan Sekolah Ilmu dan Praktik Kesehatan New York Medical College kepada CNBC.

“Jika orang sering berada di daerah berpenduduk besar sepanjang waktu, maka mereka memiliki kesempatan untuk bisa menyebarkan infeksi ke lebih banyak orang,” tuturnya.

Apa perlu mewaspadai super spreader?

Secara umum, orang yang menjadi super spreader tidaklah banyak. Kita dapat mencegah penularan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau pembersih tangan yang memiliki kandungan 60 persen alkohol, tidak menyentuh wajah, dan berdiam diri di rumah ketika sakit.

Hindari pula kontak dekat dengan orang yang sakit dan menutup mulut saat batuk atau bersin dengan tisu.

Sebelumnya dilaporkan, sebanyak 43.100 orang di China dikonfirmasi positif COVID-19 dengan 1.018 kasus kematian hingga saat ini. Virus ini sudah menyebar di 24 negara dengan sebagian besar kasusnya berada di China.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.