Berbagi Informasi :

Sukoharjo – Polemik limbah PT RUM sendiri menimbulkan efek bau di sekitar pemukiman warga sejak mulai beroperasi akhir Oktober 2017. Sejumlah protes sudah dilayangkan warga sejak Oktober 2017 silam. Hampir puluhan kali, ratusan warga Desa Gupit, Plesan, dan Celep Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah berunjuk rasa di pabrik serat rayon tersebut.

”Di Dukuh Tawang Krajan, Desa Gupit, ada 50-an warga pusing, mual, bahkan ada yang pingsan,” katanya. Dalam pemberitaan tersebut, Presiden Direktur PT Rayon Utama Makmur, Pramono menyampaikan, bau menyengat muncul akibat kegagalan proses awal produksi serat rayon PT RUM yang saat itu masih baru. Menurutnya, untuk memproses serat rayon, harus mencairkan bahan baku berupa bubur kertas berbentuk lembaran menggunakan cairan kimia menjadi larutan yang disebut viscose. Larutan tersebut kemudian diproses menggunakan mesin dengan banyak lubang kecil hingga membentuk serat rayon. Namun kemudian, lubang-lubang mesin banyak tersumbat sisa pengelasan. Akibatnya, proses produksi pabrik serat rayon di bawah PT Sritex Tbk ini terganggu.

Pada 19 Januari 2018 silam, terjadi kesepakatan antara warga desa terdampak dengan manajemen PT RUM. Kala itu, warga memberi tenggat satu bulan untuk menghilangkan bau menyengat limbah atau bila tidak maka produksi harus dihentikan sementara. Hal tersebut dilakukan setelah sekitar 2.000 warga berdemo di depan Gedung DPRD Sukoharjo.

Pada Kamis (22/02/2018) Warga kembali berunjuk rasa dengan mendatangi kantor Pemerintah Sukoharjo guna menagih janji Bupati Sukoharjo untuk menutup PT RUM. Dilaporkan Kompas.com (22/02/2018) saat itu demo berlangsung ricuh, hingga pengunjuk rasa melempari Bupati dengan botol air mineral dan kardus makanan. Usai demo tersebut, polisi mengamankan satu mahasiswa dan dua warga atas tuduhan merusak fasilitas dan sarana PT Rum pada Jumat (23/02/2018).

Melansir dari Tribunnews pada Selasa (27/11/2018) unjuk rasa kembali bergolak. Aksi dilakukan ribuan warga tak hanya dari kecamatan Nguter dan Sukoharjo, tapi juga sejumlah masa juga diduga berasal dari Karanganyar dan Wonogiri. Saat itu aksi yang terjadi merupakan aksi damai. Warga saat itu memprotes PT RUM yang masih menimbulkan bau, padahal sejak Februari 2018 sudah ada sanksi yang dikeluarkan Bupati Sukoharjo agar operasi pabrik tersebut menghentikan proses produksinya selama 18 bulan.

Menindaklanjuti pengaduan warga kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo terkait  pencemaran udara yang berasal dari PT RUM, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menurunkan tim untuk melakukan pengawasan. Saat ini, pabrik sudah mendapatkan sanksi administrasi dari Bupati akibat pencemaran yang ditimbulkan dengan penghentian operasi sementara selama 8 bulan terhitung sejak Januari 2018. 

KPAI mendatangi lokasi pemukiman penduduk yang letaknya paling dekat dengan lokasi pabrik, hanya radius sekitar 500 meter, yaitu di dukuh Tawang Krajan, Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo.  Adapun desa terdampak di Sukoharjo adalah Desa Kedungwinong, Desa Plesan, Desa Gupit, Desa Celep dan Desa Pengkol. 

“Karena hanya diberhentikan sementara sambil menunggu alat peredam bau, warga menjadi trauma dan ketakutan jika pabrik tersebut beroperasi kembali, maka warga akan mengalami kembali gangguan pernafasan dan kesehatan lainnya akibat proses produksi pabrik tersebut. Kekhawatiran ini yang menggerakan warga terus berjuang kemana-mana agar pabrik tersebut dicabut ijinnya dan tidak beroperasi kembali.,” ujar Komisioner KPAI Bidang Sosial, Susianah. 

Saat pengawasan, KPAI bertemu dan mendengarkan keluhan sekitar 40 warga terdampak secara langsung, KPAI juga mewawancarai sejumlah anak yang mengalami sesak dada, tengkuk sakit, muntah-muntah, pusing dan mual berkepanjangan akibat bau busuk yang ditimbulkan dari proses produksi pabrik.

KPAI mendapatkan data jumlah anak-anak yang terdampak pencemaran diantaranya dari Dukuh Ngarapah mencapai 48 anak-anak (14 diantaranya masih balita), Dukuh Tegalrejo sebanyak 27 anak-anak (10 diantaranya masih balita), dan Dukuh Tawang Krajan sebanyak 27 anak-anak (3 diantaranya usia balita). Ketiga dukuh tersebut masuk wilayah kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.  

“Data tersebut menunjukkan bahwa anak usia sekolah yang terdampak cukup banyak. Mereka selalu menggunakan masker ke sekolah, begitupun para gurunya. Jika bau busuk menyengat  tidak mampu diterima tubuh anak-anak, maka anak jatuh sakit dan tidak  bisa bersekolah. Dampaknya, nilai anak-anak menurun karena sering tidak masuk sekolah dan dirumah juga tidak bisa belajar karena terganggu oleh bau busuk”, ungkap Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.