Berbagi Informasi :

Pemerintah resmi melarang mudik Lebaran tahun ini. Namun di satu sisi, tempat-tempat atau objek wisata dibuka untuk dikunjungi. Hal itulah yang membingungkan masyarakat ketika melihat dua fenomena kebijakan publik yang bertolak belakang, bertabrakan satu dengan yang lain.

Pengamat kebijakan publik, Pudjo Rahayu Risan mengatakan, tidak mudah mengelola penyebaran Covid-19 agar penyebarannya tidak meningkat, saat bebarengan mengelola destinasi wisata dibuka dengan harapan perekonomian bergulir.  “Sulit, karena semua untuk sama-sama kepentingan masyarakat. Memang sulit atau tidak mudah mengelola dan menjaga aspek kesehatan bersamaan dengan ekonomi,” kata Pudjo.

Sementara itu, menurut Akademisi dan Pengamat Kebjakan Kesehatan “Fahmi Hakam”, alasan larangan mudik demi menghambat penyebaran Covid-19 untuk tidak berkerumun dan secara bersamaan membuka destinasi obyek wisata, mengharapkan kedatangan wisatawan yang juga bertujuan menghidupkan ekonomi, sangat bertentangan.

“Dilihat dari perspektif kesehatan, keduanya sama saja dan sama-sama berkerumun, serta mobilisasi dalam jumlah yang banyak. Bahkan pembukaan objek wisata berpotensi menimbulkan klaster baru dan mempermudah akses wisatawan asing untuk masuk ke Indonesia, juga perlu menjadi perhatian kita bersama”, ungap Fahmi.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy merespons gejolak di masyarakat atas larangan mudik yang dianggap tak sejalan dengan pembukaan tempat wisata.

Menurut Muhadjir, ketika warga telah dilarang mudik setidaknya mereka tetap boleh melepas penat dengan berlibur atau berwisata di dalam kota. Oleh karena itu tempat wisata lokal akan tetap dibuka.

“Ya kalau orang sudah tidak boleh pergi kemana-mana ya dibukalah wisata lokalnya agar dia bisa pergi ke tempat-tempat liburan. Tapi dengan kepatuhan yang terkendali, itu sebetulnya yang dimaksud,” jelas Muhadjir.

Ia tak menampik banyak pihak yang menilai larangan mudik itu kurang tegas lantaran tempat wisata tetap boleh dibuka.

Namun, menurutnya, pertimbangan lain dalam pengambilan keputusan ini berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi yang harus tetap dijaga. Pemerintah berharap dengan kebijakan tersebut, bukan hanya laju pertumbuhan covid-19 yang bisa ditekan tapi perekonomian masyarakat juga bisa terus berjalan.

“Ini strategi yang kita lakukan dan mudah-mudahan dengan demikian covid bisa terkendali tapi juga daya beli masyarakat, roda ekonomi juga masih tetap bisa bergerak,” kata dia.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 IDI Zubairi Djoerban mengakui, dibukanya tempat wisata saat liburan Idul Fitri 2021 Mei mendatang bisa memungkinkan menambah kasus Covid-19 dan memunculkan klaster di tempat wisata. Apalagi, dia melanjutkan, kalau protokol kesehatan dilonggarkan maka bisa berbahaya menambah penularan kasus.

“Namun, mungkin pertimbangan pemerintah adalah menghidupkan ekonomi. Jadi, kalau mau membuka tempat wisata saat libur Idul Fitri bisa dilakukan namun harus amat sangat ketat pendisiplinannya,” kata Zubairi saat dihubungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.