Berbagi Informasi :

Depresi dan frustrasi sering kali dianggap kondisi yang sama terutama oleh awam. Padahal, keduanya memiliki pengertian yang jelas berbeda.

  • Depresi diartikan sebagai perasaan sedih dan putus asa yang mendalam karena satu atau banyak hal.
  • Frustrasi ialah perasaan marah dan kecewa yang timbul karena ketidakmampuan diri untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.

Bagaimana, apakah sudah cukup jelas? Kalau belum, yuk, simak poin berikutnya!

Perbedaan selanjutnya terletak pada jangka waktu depresi dan frustrasi itu sendiri. Dilansir Healthline, frustrasi cenderung berlangsung sesaat, sementara, atau jangka pendek. Sementara itu, depresi bisa berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan lebih.

Seperti yang dijelaskan pada poin sebelumnya, frustrasi hanyalah perasaan marah dan kecewa yang bisa diartikan sebagai respons emosional sesaat. Nah, jika kamu merasa perasaan itu berlangsung dalam jangka panjang, ada kemungkinan kamu telah memasuki fase depresi.

Depresi dan frustrasi disekat oleh klasifikasi yang berbeda. Depresi termasuk ke dalam penyakit mental atau psikologis, sedangkan frustrasi hanyalah respons emosional semata.

Akan tetapi, jangan menganggap remeh frustrasi. Dilansir WebMD, frustrasi bisa menjadi akar dari segala emosi yang berakibat pada penyakit mental, seperti depresi dan lain sebagainya.

Setelah menyimak poin di atas, kamu pasti sudah menangkap bahwasannya depresi lebih tinggi tingkatannya dari frustrasi. Ya, frustrasi termasuk ke dalam salah satu gejala depresi.

Hal itu dibuktikan oleh studi ilmiah yang terbit dalam jurnal Current Psychology pada tahun 2017. Penelitian yang melibatkan 270 orang Polandia dan 209 orang Korea Selatan ini menghasilkan kesimpulan umum bahwa frustrasi dapat mengarahkan seseorang pada depresi.

Begitu pula dengan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Cambridge University Press pada tahun 2018. Di sana tertulis bahwa perasaan marah yang berkaitan dengan frustrasi memiliki koneksi terhadap depresi.

Frustrasi bisa ditangani sendiri dengan cara mempraktikkan meditasi dan mindfulness. Bisa juga dengan bercerita dengan orang yang dipercaya atau ahli kesehatan jiwa, yang bisa mendengarkan ceritamu tanpa menghakimi.

Berbeda halnya dengan depresi yang akan lebih baik ditangani langsung oleh ahli kesehatan jiwa profesional, baik itu psikolog maupun psikiater. Selain berbagai macam terapi, penanganan depresi juga kadang melibatkan obat-obatan seperti antidepresan, tergantung pada kondisi pasien.

Itulah beberapa hal yang membedakan depresi dan frustrasi. Walaupun berbeda, tetapi keduanya memiliki dampak yang tak baik untuk kesehatan mental. Maka dari itu, kita harus meningkatkan kepedulian atau awareness terhadap diri kita sendiri agar tak mudah terkena dua perasaan tak sehat tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.