Berbagi Informasi :

Setiap hari 540 bayi di dunia lahir dengan kondisi bibir sumbing dan celah langit-langit. Jika tak ditangani sedini mungkin, kelainan tersebut bisa berimbas pada kualitas generasi muda di suatu bangsa.

Bibir sumbing atau celah langit-langit merupakan kondisi di mana terdapat celah di antara rongga mulut dan rongga hidung akibat ketidaksempurnaan proses penyatuan bibir dan langit-langit pada masa perkembangan janin. Anak-anak dengan kondisi ini berpotensi mengalami komplikasi kesehatan, dan bahkan dapat membawa dampak negatif terhadap kehidupan sosial mereka akibat stigma yang ada di masyarakat.

“Celah ini dapat menyebabkan berbagai masalah seperti bayi sulit bernapas, sulit makan, susah bicara dengan baik, berisiko tinggi mengalami malnutrisi, tidak bermasyarakat, dan pada akhirnya kita memiliki generasi yang tak bisa diandalkan,” papar Dr. dr. Irena Sakura Rini, SpBP.RE, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (PERAPI) DKI Jakarta dalam acara Bakti Sosial Operasi Bibir Sumbing dan Sumbing Langit-Langit di Jakarta, Selasa (15/6).

Menurut dr. Irena, bayi yang terlahir dengan bibir sumbing seharusnya sudah dioperasi sebelum menginjak usia 1 tahun. Sementara pada bayi penderita sumbing langit-langit, sebelum usia 2 tahun sudah harus diambil tindakan operasi.

Terkait masalah ini, dalam rangka HUT Kedokteran dan Kesehatan Polisi Republik Indonesia (DOKKES POLRI) ke-75 serta RS Bhayangkara Pusat Raden Said Sukanto ke-55, diadakanlah bakti sosial berupa operasi bibir sumbing dan sumbing langit-langit gratis terhadap 1.000 anak di seluruh Indonesia. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Smile Train Indonesia dengan PUSDOKKES POLRI dan PERAPI.

Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan POLRI Brigjen. Pol. Dr. dr. Rusdianto, M.M, M.Si, DFM mengatakan, pihaknya turut prihatin akan tingginya jumlah kasus bibir sumbing di Indonesia.

“Oleh sebab itu, PUSDOKKES POLRI untuk kedua kalinya mengadakan Bakti Sosial Operasi Gratis Bibir Sumbing serentak di seluruh Indonesia, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan di masa adaptasi baru. Ini merupakan bagian dari dedikasi PUSDOKKES POLRI kepada negara untuk mewujudkan anak-anak Indonesia yang lebih sehat,” kata Brigjen. Pol. Rusdianto.

Sementara itu Country Manager Smile Train Indonesia Deasy Larasati mengatakan, saat pandemi kegiatan operasi bibir sumbing gratis yang dilakukan oleh lembaganya sempat terhenti total selama enam bulan. Padahal sebelumnya lembaga nirlaba dunia ini selalu melakukan 600 operasi tiap bulan di Indonesia.

“Selama satu tahun terakhir, kita semua mengalami dampak pandemi. Termasuk kami di Smile Train Indonesia. Namun, kami tetap semangat untuk berupaya agar pasien-pasien kami mendapat pelayanan dan menjalani hidup dengan lebih baik,” kata Deasy.

“Walaupun sempat tertunda dan harus menunggu lebih lama karena pandemi, kami bersyukur operasi gratis bibir sumbing ini dapat berjalan kembali melalui kerja sama dengan PUSDOKKES POLRI dan PERAPI,” tambahnya.

Bakti Sosial Operasi Bibir Sumbing dan Sumbing Langit-Langit yang digelar sepanjang Juni 2021 ini dilakukan serentak di 38 RS Bhayangkara yang ada di berbagai daerah di Tanah Air dengan mengikuti protokol kesehatan COVID-19. Kegiatan operasi bibir sumbing di masa pandemi ini tercatat sebagai yang terbanyak menjaring peserta sehingga membuat rekor baru menurut Museum Rekor Indonesia (MURI).

Upacara penghargaan oleh MURI ini dilaksanakan di RS Bhayangkara Pusat Raden Said Sukanto, Jakarta, siang tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.