Akibat Lonjakan Kasus Corona : Susu Bear Brand Langka di Pasaran & Harga Vitamin yang Langsung Meroket

Akibat Lonjakan Kasus Corona : Susu Bear Brand Langka di Pasaran & Harga Vitamin yang Langsung Meroket

Berbagi Informasi :

Panic attack dan Panic Buying, menjadi momok langganan masyarakat Indonesia tatkala berada dalam situasi genting. Masih jelas dalam ingatan masyarakat, saat pandemi pertama kali diumumkan oleh pemerintah pada Maret 2020 silam. Masker, alat cairan sanitasi, sabun cuci tangan, ludes terjual dalam sekejap.

Pasar khusus alat kesehatan di Pramuka, Jakarta Timur diserbu masyarakat untuk memborong barang-barang tersebut. Tingginya permintaan yang tak sebanding dengan jumlah persediaan menyebabkan harga masker dan sanitasi melambung tinggi.

Keadaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian, harga masker kembali normal seiring dengan banyaknya persediaan di pasar.

Satu tahun lebih Indonesia diselimuti pandemi Covid-19, membuat kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan mulai turun. Ditambah lagi munculnya varian baru. Kondisi ini membuat lonjakan kasus Covid-19 melonjak tajam. Beberapa pekan terakhir, kasus harian menembus puluhan ribu.

Seluruh rumah sakit nyaris tumbang, tidak dapat lagi menampung pasien Covid-19. Mereka harus rela mengantre karena kondisinya benar-benar dipenuhi pasien terpapar Covid.

Tingginya kasus positif dari hari ke hari membuat masyarakat dihinggapi rasa ketakutan. Hingga memunculkan rasa panik berlebihan agar tak ikut terpapar. Apa saja informasi yang tersebar dan dianggap mencegah virus masuk ke tubuh dilakukan. Maka tak heran jika susu hingga suplemen atau vitamin yang dinilai bisa menguatkan daya tahan tubuh dari virus diserbu secara besar-besaran.

Susu yang paling banyak diburu saat ini adalah Bear Brand. Susu steril asal pabrikan Swiss itu, mulai langka di pasaran. Jika pun ada, harganya tak lagi seperti sebelumnya di kisaran Rp8 ribu-Rp9 ribu. Kini menjadi Rp15 ribu. Begitu juga dengan harga vitamin. Selain langka, harganya juga melonjak berkali lipat.

Cherrie, seorang pegawai swasta bercerita, merasakan kelangkaan barang-barang itu. Selama satu pekan ini, dia pontang panting mencari vitamin, obat, oxygen, dan susu steril berlogo beruang. Sulit mendapat vitamin di pasaran saat ini.

Sebagai anggota Satgas di gereja tempat Cherrie beribadah, ia turun aktif mencari kebutuhan para jemaat penyintas Covid. Atau sekadar membeli vitamin dan kebutuhan lainya sebagai persediaan gereja jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

“Aku cari di Halodoc ada, tapi ternyata tidak ada. Sudah 5 kali begitu terus tapi saat driver tiba di apotek sudah tidak ada, habis. Akhirnya aku cari sendiri,” cerita Cherrie, saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (3/7)

Untuk vitamin seperti vitamin D 5000mg, Kalsium, Zinc, C 1000mg, masih dapat dijumpai di beberapa apotek. Tetapi harganya sangat normal.

“Tapi untuk D3 5000mg biasanya Rp420 ribu sekian per botol, sudah Rp550 ribu,” ungkapnya.

Sejumlah toko obat resmi milik farmasi juga mengalami kelangkaan barang-barang tersebut. Bukan hanya vitamin, begitu juga dengan tabung oksigen.

“Apalagi Ivermectin, mustahil. Memang ada, tapi Rp500.000 per strip isi 10,” katanya.

Menurutnya, tabung ukuran 1M3 berikut dengan isi, harga normal berkisar Rp850.000 – Rp1,5 juta. Kini, mendadak menjadi Rp3,7 juta.

Selain itu, obat Favipiravir (Avigan), obat langganan dibeli pasien Covid-19, menjadi Rp39.000 per kaplet. Padahal sebelumnya di kisaran harga Rp27.000 untuk dua kaplet.

“Dan di apotek itu dibatasi hanya boleh beli 6 kaplet. Harga per kaplet Rp39.000,” ucapnya.

Tingginya peminat vitamin, obat-obatan, dan oksigen membuat masyarakat kalap. Pernah Cherrie mencari vitamin tertentu, kemudian apoteker mengarahkan membeli vitamin merek lain.

Pertimbangan apoteker, kata Cherrie, bukan soal merek apa yang mau dibeli masyarakat melainkan kandungan apa yang dibutuhkan dan dicari. Perihal merek, dianggap sudah tidak prioritas lagi saat ini.

Cherrie merasa heran apa yang menyebabkan susu steril Bear Brand menjadi barang langka. Ia tidak habis pikir mengapa masyarakat begitu paniknya memborong susu steril dengan dalih mampu meningkatkan imunitas tubuh.

“Aku yakin banget yang memborong itu hanya sekadar jaga-jaga, tapi ini luar biasa banget,” ungkap Cherrie.

Cherrie tidak menyalahkan respons masyarakat dalam rangka waspada. Apalahgi jika mungkin memang ada yang sangat membutuhkan.

Kesulitan mencari obat-obatan terapi Covid, vitamin, hingga oksigen juga menyadarkan Cherrie, bahwa di situasi dan kondisi apapun pikiran tetap harus dijaga. Agar dapat bertindak dengan tepat, dan meminimalisir tingkat stres.

Kisah Cherrie juga dialami Telni, pekerja swasta yang berkantor di Jakarta Pusat. Dia heran mengapa susu steril Bear Brand mendadak susah ditemui.

“Kemarin aku ke Carrefour Pamulang biasa beli satu pak bear brand sekarang enggak boleh hanya 6 kaleng dibatasi, ” katanya.

Bahkan cerita yang dia dapat, memberapa orang yang meminta bantuan ojek online untuk mencarikan susu tersebut juga menyerah. Driver tidak bisa menemukan susu kaleng cat putih itu pasaran.

“Ojol di kawasan Pamulang udah nyerah asal diorder Bear Brand, “katanya.

Pengakuan seorang menjaga minimarket, sudah hampir sepekan inj Bear Brand memang sedikit sekali masuk ke gerai mereka. Padahal, permintaan cukup banyak. Tidak seperti biasanya.

” Kita juga heran tumben banget ini yang minta banyak tapi barangnya sedikit. Dibatasi dari pabriknya kayaknya deh, ” kata pria itu.

Dia juga bertanya-tanya apakah tingginya permintaan susu steril itu ada kaitannya dengan angka kasus Covid yang kian tinggi.

“Kayaknya sejak kasus covid tinggi jadi banyak yang cari, ” ujar dia.

Sebelumnya, meski pada Sabtu (3/7) Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menerbitkan keputusan tentang harga eceran tertinggi (HET) obat-obatan untuk terapi Covid, Cherrie tidak langsung optimis harga akan kembali normal.

EVENT NEWS Uncategorized