Berbagi Informasi :

Salah satu usaha dalam mengalahkan pandemi virus corona baru (COVID-19) yang disebabkan oleh strain virus corona baru (SARS-CoV-2) adalah dengan menggalakkan pengujian atau testing. Hingga saat ini, dari berbagai metode, polymerase chain reaction masih menjadi “standar emas”.

Dengan tes usap (swab test) nasofaring di hidung dan tenggorokan. Namun, mayoritas orang mengaku tidak nyaman dengan prosedur pencolokan hidung dan tenggorokan. Karena takut dan sangsi, pengujian SARS-CoV-2 pun terhambat, sehingga COVID-19 menyebar tanpa terdeteksi.

Menjawab keluhan, beberapa tes COVID-19 tanpa harus colok hidung dan tenggorokan pun bermunculan. Salah satu yang digadang-gadang efektif adalah Bio Saliva, tes PCR kumur hasil kolaborasi PT Bio Farma dan Nusantara Genetics (Nusantics)!

Dihubungi oleh IDN Times pada Sabtu (3/7), Co-Founder sekaligus CEO Nusantics, Sharlini Eriza Putri, mengatakan bahwa Bio Saliva sudah dikembangkan dari awal pandemi. Dengan PCR kumur, masyarakat tidak perlu takut lagi untuk tracing dengan PCR, sehingga COVID-19 bisa dideteksi lebih dini.

“Sudah dari awal tahun lalu. Kita pikirkan, bagaimana caranya agar PCR tidak perlu colok hidung dan tenggorokan,” ujar Sharlini.

  1. Health
  2. Medical
  3. 04 Jul 21 | 12:22

Gandeng Nusantics, Bio Farma Rilis Tes PCR Kumur Bio Saliva

Tidak perlu colok nasofaring lagi!Gandeng Nusantics, Bio Farma Rilis Tes PCR Kumur Bio SalivaBio Saliva, kerja sama Nusantics dan Bio Farma (biofarma.co.id)

Alfonsus Adi Putra

VerifiedAlfonsus Adi Putra  Share to Facebook Share to Twitter

Jakarta, IDN Times — Salah satu usaha dalam mengalahkan pandemi virus corona baru (COVID-19) yang disebabkan oleh strain virus corona baru (SARS-CoV-2) adalah dengan menggalakkan pengujian atau testing. Hingga saat ini, dari berbagai metode, polymerase chain reaction masih menjadi “standar emas”.

Dengan tes usap (swab test) nasofaring di hidung dan tenggorokan. Namun, mayoritas orang mengaku tidak nyaman dengan prosedur pencolokan hidung dan tenggorokan. Karena takut dan sangsi, pengujian SARS-CoV-2 pun terhambat, sehingga COVID-19 menyebar tanpa terdeteksi.

1. Perkenalkan Bio Saliva, sudah dipikirkan sejak awal pandemi COVID-19

https://www.instagram.com/p/CQszUL5gld4/embed/captioned/?cr=1&v=8&wp=760&rd=https%3A%2F%2Fwww.idntimes.com&rp=%2Fhealth%2Fmedical%2Falfonsus-adi-putra-2%2Ffakta-tes-pcr-kumur-bio-saliva#%7B%22ci%22%3A0%2C%22os%22%3A12199.5%2C%22ls%22%3A11424.5%2C%22le%22%3A11516.20000000298%7D

Menjawab keluhan, beberapa tes COVID-19 tanpa harus colok hidung dan tenggorokan pun bermunculan. Salah satu yang digadang-gadang efektif adalah Bio Saliva, tes PCR kumur hasil kolaborasi PT Bio Farma dan Nusantara Genetics (Nusantics)!

Dihubungi oleh IDN Times pada Sabtu (3/7), Co-Founder sekaligus CEO Nusantics, Sharlini Eriza Putri, mengatakan bahwa Bio Saliva sudah dikembangkan dari awal pandemi. Dengan PCR kumur, masyarakat tidak perlu takut lagi untuk tracing dengan PCR, sehingga COVID-19 bisa dideteksi lebih dini.

“Sudah dari awal tahun lalu. Kita pikirkan, bagaimana caranya agar PCR tidak perlu colok hidung dan tenggorokan,” ujar Sharlini.

2. Sudah dapat lampu hijau dari Kemenkes RI

https://www.instagram.com/p/CQ2j8FbMMB9/embed/captioned/?cr=1&v=8&rd=https%3A%2F%2Fwww.idntimes.com&rp=%2Fhealth%2Fmedical%2Falfonsus-adi-putra-2%2Ffakta-tes-pcr-kumur-bio-saliva#%7B%22ci%22%3A1%2C%22os%22%3A12206.90000000596%2C%22ls%22%3A11424.5%2C%22le%22%3A11516.20000000298%7D

Sharlini bercerita bahwa pengembangan Bio Saliva sendiri melibatkan lebih dari 400 sampel pasien positif COVID-19. Melewati uji validasi selama 7 bulan, Nusantics bekerja sama dengan instansi yang direkomendasikan Kemenkes RI, termasuk:

  • Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro
  • Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND)
  • Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi (RSDK)

Kabar baiknya, Bio Saliva telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Tertanggal 1 April 2021, Bio Saliva memiliki nomor izin edar (NIE) AKD 10302120673.

“Pokoknya, tidak ada alasan lagi untuk tidak tracing. Kalau tidak mau colok, ya bisa lewat kumur atau gargling,” ujar Sharlini.

Sharlini mengatakan bahwa tes kumur ini tidak ada bedanya dengan PCR sebagai standar emas pemeriksaan COVID-19. Dibandingkan dengan swab test yang tidak nyaman, tes kumur lebih menjangkau banyak orang. Kalau saliva, kenapa tidak meludah saja? Kenapa harus berkumur? Ternyata, setelah diuji, ludah orang Indonesia memiliki ciri khusus.

“Sudah melewati trial, namun profil saliva Indonesia beda karena ada zat yang menghambat atau inhibitory agent, pembacaan virus SARS-CoV-2. Oleh karena itu, hasilnya jelek. Sebagai gantinya, metode gargle,” tambah Sharlini.

Nusantics menekankan bahwa Bio Saliva telah dikaji oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik pada awal Mei 2021. Berdasarkan masukan dari berbagai pihak, terutama kalangan dokter dan tenaga kesehatan, Bio Saliva pun dimutakhirkan.

Lalu, bagaimana cara melakukan tes dengan Bio Saliva? Lewat akun Instagram resminya, Nusantics membagikan langkah-langkah tes. Sharlini menjelaskan bahwa menarik napas bertujuan untuk memindahkan SARS-CoV-2 ke tenggorokan. Lalu, batuk agar lokasi virusnya naik dan bisa dideteksi lewat kumur.

“Syarat kumurnya adalah kumur tenggorokan (gargling), bukan kumur mulut. Jadi, kepala harus mendongak ke atas dan harus ada suara. Itu langkah yang benar,” jelas Sharlini.

Tidak perlu takut, Sharlini mengatakan bahwa cairan kumur yang dipakai Bio Saliva tidak memiliki efek berbahaya. Jadi, tidak perlu khawatir jika tertelan saat berkumur. Setelahnya, hasil kumur bisa dibawa ke layanan kesehatan untuk diperiksa menggunakan mesin PCR.

Dikarenakan dikembangkan di Indonesia, Bio Saliva dijamin relevan. Menurut data dari Nusantics, Bio Saliva dapat mendeteksi SARS-CoV-2 di nilai cycle threshold (CT) hingga 40.

Di angka CT < 35, Bio Saliva menunjukkan sensitivitas hingga 93,57 persen, cukup dekat dengan swab test dengan sensitivitas 95 persen! Sharlini mengatakan kalau sensitivitas ini cukup menjanjikan untuk pasien COVID-19 tanpa gejala (OTG), lansia, anak-anak, dan yang telah menjalani isolasi mandiri.

Di tengah maraknya invasi varian mutasi SARS-CoV-2 yang menyebabkan angka kasus meroket, kombinasi Bio Saliva dengan produk Nusantics lain, mBioCov-19 dapat mendeteksi hingga 10 varian COVID-19, yaitu:

  • B.1.1.7 (Alpha)
  • B.1.351. (Beta)
  • P.1 (Gamma)
  • B.1.617.2 (Delta)
  • B.1.617.1 (Kappa)
  • B.1.525 (Eta)
  • B.1.526 (Iota)
  • B.1.466.2 (varian Indonesia)
  • B.1.427/29 (Epsilon)
  • C.37 (Lambda).

Hal ini dikonfirmasi oleh Sharlini. Dengan begitu, Bio Saliva menjadi alat uji COVID-19 pertama milik Indonesia yang dapat mendeteksi 10 varian tersebut!

“Kami sudah mengujinya dengan bioinformatics alignment terhadap puluhan ribu data Whole Genome Sequencing varian-varian tersebut. Kemampuan mBioCoV19 mendeteksi semua varian yang beredar dikarenakan pertimbangan atas target genes yang dipakai dalam desain PCR kit sejak tahun lalu. Di mana gene E, M, S, dan N memiliki tingkat mutasi yang tinggi, maka kami memilih target gene helicase (nsp-13) dan RdRp (nsp-12) yang sangat conserved (atau lebih tahan terhadap mutasi) dan sensitif,” ujar Revata Utama, CTO Nusantics.

Bio Saliva hadir sebagai jawaban untuk kebutuhan testing di fasilitas kesehatan dengan nyaman dan akurat. Oleh karena itu, Bio Saliva sebagai Gargle-PCR diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tracing skala nasional, terutama untuk anak-anak dan lansia yang takut swab test.

Selain metode yang nyaman, Nusantics ingin pengambilan sampel Bio Saliva dapat dilakukan di area non-medis dengan pengawasan tenaga kesehatan. Selain praktis dan dapat mengangkut sampel berjumlah besar tanpa menambah tenaga medis, hal ini dapat mengurangi kerumunan, menghindari kontak, dan mencegah klaster penyebaran baru.

Dengan demikian, Bio Saliva dapat digunakan untuk screening rutin di kawasan pabrik, industri, gedung perkantoran, pemukiman, hingga sekolah dan perguruan tinggi agar COVID-19 dapat ditanggulangi lebih awal. Selain itu, Bio Saliva dapat digunakan di daerah terpencil yang menghadapi penyebaran COVID-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.