Berbagi Informasi :

Waktu berjemur juga harus diperhatikan. Menurut dr Adria, berjemur di pagi hari sebaiknya dilakukan sekitar pukul 07.00 atau 07.30 selama 30 menit hingga satu jam. Di saat itulah sinar matahari yang ada belum terlalu panas untuk kulit.

“Biasanya paling bagus itu setengah jam sampai satu jam. Dengan catatan jangan terlalu panas juga, nanti kulit kering, jadi dehidrasi, atau merusak kulit. Normalnya jam setengah tujuh, jam tujuh sampai setengah delapan cukuplah,” katanya.

Tapi tentu saja ini bukan panduan baku. Mengingat cuaca belakangan ini sering mendung dan bahkan hujan, maka anjuran untuk berjemur sekitar pukul 07.00 atau 07.30 belum tentu bisa dilakukan.

Dokter spesialis kulit sekaligus staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNPAD/RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr R M Rendy Ariezal Effendi, SpDV, mengatakan memang tidak ada guideline yang secara spesifik bisa menentukan waktu terbaik untuk berjemur.

Di media sosial, sempat beredar anjuran untuk berjemur di atas pukul 10 pagi. Menurut dr Rendy, berjemur di atas jam 10 juga bisa saja dilakukan, tetapi bisa memberikan dampak yang buruk untuk kulit.

“Kalau tujuannya untuk mendapatkan vitamin D, anjuran berjemur di atas jam 10 bisa saja dilakukan. Tapi dari sisi kesehatan kulit, ada risikonya,” ujar dr Rendy.

“Risikonya antara lain bisa flek atau tanning kalau tanpa pelindung seperti sunblock,” lanjutnya.

Berjemur untuk penderita COVID-19 bisa memberikan vitamin D, yang berasal dari ultraviolet B (UVB), yang bermanfaat untuk daya tahan tubuh. Tetapi, jika terlalu lama terpapar UVB bisa meningkatkan risiko kanker kulit.

“Selain itu, paparan sinar UVB yang terus menerus dan berlebihan tanpa proteksi dapat meningkatkan risiko kanker kulit di kemudian hari,” lanjutnya.

Berjemur matahari bisa jadi kebiasaan yang baik untuk kesehatan karena membantu tubuh memproduksi vitamin D yang penting untuk sistem imun. Kapan waktu berjemur yang terbaik? Para ahli menyarankan pagi saat paparan sinar ultraviolet (UV) matahari masih relatif aman.

Staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNPAD/RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr R.M. Rendy Ariezal Effendi, SpDV, menjelaskan paparan UV yang terlalu tinggi malah memiliki risiko merusak kulit. Dampaknya dalam jangka panjang bisa jadi pemicu kanker.

“Kalau tujuannya untuk mendapatkan vitamin D, anjuran berjemur di atas jam 10 bisa saja dilakukan. Tapi dari sisi kesehatan kulit, ada risikonya,” kata dr Rendy beberapa waktu lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam panduannya yang terbaru memprediksi indeks UV di wilayah Indonesia. Ini bisa jadi pedoman untuk orang-orang yang ingin tahu waktu berjemur.

Dalam prediksi tanggal 21 Juli 2021, indeks UV di sebagian Indonesia bagian timur akan masuk dalam kategori merah alias berisiko sangat tinggi mulai pukul 09.00-10.00 pagi. Sementara hampir di seluruh wilayah lain di Indonesia mulai masuk dalam kategori oranye alias risiko tinggi pukul 10.00.

Indeks UV di seluruh Indonesia kemudian masuk dalam kategori oranye dan merah mulai di jam 11.00 sampai 12.00 siang.

Risiko zona UV lalu diprediksi BMKG perlahan turun dimulai dari wilayah Indonesia bagian timur pada pukul 14.00. Disusul Indonesia bagian tengah, termasuk pulau Jawa, pada pukul 15.00 dan Indonesia bagian Barat pada pukul 16.00.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.