Berbagi Informasi :

Vitamin D adalah nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Ada banyak fungsi dari nutrisi yang satu ini. Mulai dari meningkatkan kesehatan tulang hingga memperkuat jaringan otot.

Vitamin D juga banyak dikaitkan dengan COVID-19. Ada saran yang mengatakan bahwa meningkatkan asupan vitamin ini bisa melindungi kita dari infeksi COVID-19, dan ini ramai sekali dibahas di media sosial. Akan tetapi, benarkah vitamin D bisa membantu mencegah penyakit akibat virus corona SARS-CoV-2 ini? Simak ulasannya berikut ini.

1. Fungsi vitamin D terhadap saluran pernapasan

Sebuah laporan dalam jurnal BMJ Clinical Research tahun 2017 meneliti 25 uji klinis yang menguji dampak suplemen vitamin D pada infeksi saluran pernapasan akut, termasuk bronkitis, pneumonia, dan sinusitis (infeksi sinus yang umum). Gabungan, uji coba ini melibatkan total 11.321 peserta yang secara acak ditugaskan untuk mengonsumsi suplemen vitamin D dan pil plasebo, dan partisipan ini dipantai hingga 1,5 tahun.

Temuannya, ditemukan bahwa orang-orang yang mengonsumsi suplemen vitamin D 12 persen lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi saluran pernapasan akut daripada yang tidak mengonsumsi vitamin D.

2. Hubungan antara defisiensi vitamin D dengan COVID-19

Dilansir situs Mayo Clinic, beberapa penelitian terbaru telah melihat dampak vitamin D pada COVID-19. Satu penelitian terhadap 489 orang menemukan bahwa mereka yang kekurangan vitamin D lebih mungkin positif terkena virus yang menyebabkan COVID-19 daripada orang yang memiliki kadar vitamin D normal.

Penelitian lain juga menyatakan bahwa tingkat defisiensi atau kekurangan vitamin D yang tinggi pada pasien COVID-19 yang mengalami gagal pernapasan akut. Orang-orang ini memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi.

Selain itu, sebuah penelitian kecil secara acak menemukan bahwa dari 50 orang yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 yang diberi jenis vitamin D (calcifediol) dosis tinggi, hanya satu yang memerlukan perawatan di unit perawatan intensif. Sebaliknya, di antara 26 orang dengan COVID-19 yang tidak diberikan jenis vitamin D tersebut, sebanyak 13 orang perlu dirawat di unit perawatan intensif.

3. Masih membutuhkan penelitian lebih lanjut

Sebenarnya dari seluruh penelitian yang ada, para ahli mengakui bahwa belum ada bukti kuat bahwa konsumsi suplemen dapat mencegah atau mengobati COVID-19 pada populasi umum.

Ada beberapa variabel yang perlu dimasukkan ke dalam penelitian. Mengutip laman McGill University, “sebagian besar penelitian vitamin D sangat sulit untuk ditafsirkan karena tidak dapat menyesuaikan faktor risiko yang diketahui untuk COVID-19 yang parah, seperti usia yang lebih tua atau memiliki penyakit kronis, yang juga merupakan prediktor vitamin D yang rendah,” kata rekan penulis Guillaume Butler-Laporte, seorang dokter dan rekan di bawah pengawasan Profesor Brent Richards di McGill University.LANJUTKAN MEMBACA ARTIKEL DI BAWAH

“Oleh karena itu, cara terbaik untuk menjawab pertanyaan tentang efek vitamin D adalah melalui uji coba secara acak, tetapi ini kompleks dan intensif sumber daya, dan penelitian seperti ini membutuhkan waktu lama selama pandemi,” katanya.

4. Kelompok yang direkomendasikan untuk mendapatkan vitamin D

Ada beberapa kelompok mungkin mendapat manfaat dari suplemen vitamin D. Dilansir Everyday Health, Paul Marik, MD, kepala kedokteran paru dan perawatan kritis di Eastern Virginia Medical School, Amerika Serikat (AS), mengatakan kalau usia di atas 60 tahun serta individu dengan masalah kesehatan kronis, termasuk diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit paru-paru, bisa mendapat manfaat dari konsumsi suplemen vitamin D.

Dilansir MedlinePlus, bayi yang menyusui dan orang sakit juga termasuk di antara kelompok yang memerlukan vitamin D.

5. Vitamin D tetap dibutuhkan ketika isolasi mandiri

Masih bersumber dari Everyday Health, Susan Lanham-New, PhD, kepala departemen ilmu gizi di University of Surrey, Inggris, mengatakan kalau suplementasi vitamin D sangat penting selama masa isolasi diri terkait dengan paparan sinar matahari yang terbatas.

Selaku profesor kedokteran di Mayo Clinic di Minnesota, AS, Matthew Drake, MD, PhD, juga mengatakan kalau vitamin D berpotensi besar dalam fungsi kekebalan tubuh, sehingga kadar vitamin D yang rendah dapat menyebabkan penurunan kemampuan masing-masing sistem kekebalan kita untuk melawan berbagai gangguan, termasuk infeksi.

Ia juga mengatakan kalau menjaga kadar vitamin D dalam kisaran normal bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi, termasuk COVID-19.

6. Anjuran dosis vitamin D per hari

Asupan vitamin D tidak boleh berlebihan maupun kekurangan. Harus pas! Oleh karenanya, perlu ada rekomendasi para ahli kesehatan.

Menurut keterangan dari Office of Dietary Supplements yang merupakan cabang dari National Institutes of Health, rekomendasi asupan vitamin D berdasarkan umur adalah:

  • Usia 0 sampai 12 bulan : 400 IU (10 mikrogram)
  • Anak 1–13 tahun : 600 IU (15 mikrogram)
  • Remaja 14–18 tahun : 600 IU (15 mikrogram)
  • Dewasa 19–70 tahun : 600 IU (15 mikrogram)
  • Dewasa 71 tahun ke atas : 800 IU (20 mikrogram)

Itulah penjelasan mengenai vitamin D yang disebut-sebut dapat membantu mencegah COVID-19 dan hubungan antara keduanya. Meskipun masih butuh penelitian lebih lanjut, tetapi tidak ada salahnya untuk meningkatkan asupannya lewat pola makan sehat bergizi seimbang, agar tak cuma vitamin D, tetapi kebutuhan nutrisi penting lainnya senantiasa terpenuhi selama pandemi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.