Berbagi Informasi :

Kisruh tudingan asal usul Corona antara China dan Amerika Serikat berlanjut. Kini diplomat senior China meminta laboratorium Amerika Serikat ikut diteliti untuk menemukan keterkaitan asal usul COVID-19.

Adalah Chen Xu, perwakilan China di PBB yang mendesak penelitian transparan dan akses penuh untuk laboratorium Fort Detrick dan University of North Carolina di Amerika Serikat. Desakan tersebut ditulis dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Sembari menegaskan hipotesis atau dugaan SARS-CoV-2 selama ini disebabkan kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan adalah sangat tidak mungkin. Adapun permintaan pemeriksaan laboratorium Fort Detrick menurut Chen Xu, karena lab terkait merupakan pusat kegiatan bio-militer AS dan terkenal karena praktiknya yang ilegal, tidak transparan, dan tidak aman.

“Kekhawatiran serius telah lama dikemukakan oleh komunitas internasional atas kegiatan AS di Fort Detrick, khususnya tentang USAMRIID, dan ada banyak hal yang meragukan hubungannya dengan COVID-19,” jelas Chen Xu, dalam surat yang ditujukan kepada WHO, dikutip dari China Daily.

Ia juga menyoroti mewabahnya penyakit dengan gejala mirip COVID-19 di Greenspring, Virginia. Disebutkan pada Juli 2019 ada 54 orang di sana mengalami gejala pernapasan pneumonia dan batuk, sangat khas dengan infeksi virus Corona.

Infeksi kasus tersebut dijelaskan Chen Xu hanya berjarak satu jam perjalanan dari laboratorium Fort Detrick. Menurut seorang pejabat kesehatan dari negara bagian Virginia, jumlah kasus penyakit gejala pernapasan yang dilaporkan di daerah itu naik hampir 50 persen pada musim panas 2019.

“Pada Juli 2019, wabah pneumonia misterius yang terkait dengan penggunaan rokok elektrik dilaporkan di Wisconsin. Gejalanya antara lain sesak napas, demam, batuk, muntah, diare, sakit kepala, pusing, dan nyeri dada,” kata dia.

“Influenza 2019 di Amerika Serikat mungkin tumpang tindih dengan COVID-19. Menurut statistik CDC AS, ada sekitar 39 hingga 56 juta kasus influenza antara Oktober 2019 dan April 2020, yang mengakibatkan 24.000 hingga 62.000 kematian. Mengingat gejala yang sama, pasien COVID-19 bisa salah didiagnosis sebagai pasien influenza. Untuk menentukan apakah ada kasus seperti itu, khususnya pada dan sebelum Oktober 2019, penyelidikan dan penelitian retrospektif nasional harus dilakukan di Amerika Serikat,” pungkas Chen Xu dalam salah satu poin yang ditulis dalam surat tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.