Berbagi Informasi :

Ramai kabar pandemi COVID-19 di Indonesia berpotensi besar berubah menjadi hiperendemi. Seandainya benar, apa saja yang harus disiapkan?

Ahli epidemiologi dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), dr Masdalina Pane, menjelaskan pada dasarnya status pandemi berakhir atau berubah menjadi endemi dinyatakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut dr Pane, akhir wabah sebenarnya tak lazim untuk diprediksi dalam epidemiologi. Di samping itu, epidemiolog harus mengacu pada persiapan logistik dan rencana kontijensi untuk menghadapi lonjakan kasus.

“Ini bukan masalah setuju atau tidak setuju (dengan pernyataan WHO), tapi semua anggota PBB terikat dengan kebijakan global. Jadi status pandemi atau berakhirnya status pandemi tentu sudah melibatkan semua negara dengan kriteria dan pertimbangan tertentu,” terang dr Pane, Kamis (26/8/2021).

“Jika di tahun 2022 WHO menyatakan pandemi berakhir dan digantikan dengan endemik dengan kriteria tertentu, maka Indonesia tentu akan mengikuti ketentuan global tersebut,” lanjutnya.

Menurut dr Pane, jika COVID-19 sudah memenuhi kriteria endemik, negara-negara yang masih belum terkendali kemungkinan masuk pada kriteria hiperendemik. Artinya, tingkat kejadian penyakit atau penyebaran virus yang konstan dalam satu populasi lebih tinggi dibandingkan endemi.

“Yang harus disiapkan Indonesia adalah pertama, ada road map atau ada perencanaan jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Bukan hanya untuk COVID, tapi untuk seluruh penyakit yang berpotensi terjadinya wabah,” beber Pane.

Ia menambahkan, dalam road map tersebut Indonesia harus memiliki pencapaian yang jelas dalam bidang kesehatan. Misalnya, terkait target produksi alat tes dan vaksin COVID-19 secara mandiri sehingga tidak bergantung pada negara lain. Selain itu, fasilitas kesehatan harus mencapai standar WHO.

“Jadi itu yang harus dilengkapi, kemudian juga termasuk lintas sektornya, apa yang harus dilakukan pemerintah daerah, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah pusat dan perencanaan penanganan yang matang,” pungkasnya.

Ia menambahkan, Indonesia sebenarnya sudah pernah mengalami hiperendemi, yakni pada penyakit Tuberkulosis (TB atau TBC). Sama seperti COVID-19, dr Pane menegaskan, pemerintah memerlukan road map yang jelas dalam penanganan TBC sebagai penyakit menular berpotensi wabah. Mengingat, Indonesia selalu ada di urutan 3 besar negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia setiap tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.