Berbagi Informasi :

Pernahkah Anda merasakan nyeri hebat di area punggung seperti ditusuk-tusuk jarum? Apakah kondisi ini diperburuk saat Anda berusaha untuk meregangkan otot dan memutar kepala? Jika kedua gejala tersebut sering Anda alami, bisa jadi Anda mengidap saraf terjepit.

Apa itu saraf terjepit? Apa yang menjadi penyebab dan bagaimana cara mengatasinya? Apakah pengidap saraf terjepit perlu dioperasi? Temukan jawabannya bersama Dr. dr. Luthfi Gatam, Sp.OT (K) Spine selaku Chairman Gatam Institute Eka Hospital.

Dalam istilah medis, saraf terjepit biasa disebut Herniated Nucleus Pulposus atau HNP. Umumnya, HNP ditandai dengan kondisi saraf yang tertekan atau terjepit oleh bagian sekitarnya dan akan menimbulkan rasa nyeri seperti tusukan jarum yang terjadi di area tulang belakang atau lumbal dan leher atau cervical. Beragam faktor menjadi penyebab terjadinya saraf terjepit, misalnya faktor genetik dan usia.

Pada usia produktif 25-40 tahun, banyak sekali keluhan di daerah pinggang yang tidak hanya dialami oleh orang lanjut usia, tapi juga pekerja muda yang sering menghabiskan waktunya dengan duduk selama berjam-jam.

dr Luthfi menjelaskan bahwa penanganan awal pada saraf terjepit umumnya diatasi secara konservatif dengan metode tanpa operasi, seperti istirahat, fisioterapi, hingga konsumsi obat dengan pengawasan dokter. Namun, ada batasan waktu dari penanganan konservatif tersebut.

Jika kondisi pasien tidak menunjukkan perbaikan, perlu dilakukan tindakan lanjutan, salah satunya operasi. Seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran, kini tindakan operasi pada pasien saraf terjepit mengarah pada tindakan minimal invasive yang aman dan ditandai dengan operasi minim sayatan serta metode endoskopi yang biasa disebut Percutaneous Endoscopic Lumbal Discectomy atau PELD untuk tulang belakang dan Percutaneous Endoscopic Cervical Decompresion atau PECD untuk leher.

PELD adalah penanganan pasien saraf terjepit dengan tingkat kesembuhan di atas 98% yang dengan sayatan hanya sekitar 8 Milimeter. Pengerjaannya dilakukan dengan bantuan tabung berukuran sangat kecil dibantu dengan kamera definisi tinggi disebut endoskop untuk penglihatan.

Melalui lensa dan monitor, saraf pasien dapat terlihat dengan jelas dan terhindar dari cedera yang dapat mengakibatkan pendarahan hebat ataupun risiko kelumpuhan. PELD dapat dilakukan dalam kurun waktu yang singkat, sehingga pasien hanya perlu dirawat 2-3 hari dan bisa melakukan aktivitas normal setelahnya.

Sedangkan Percutaneous Endoscopic Cervical Decompression atau PECD umumnya dilakukan mulai dari depan leher, anterior ataupun dari belakang leher, posterior tergantung lokasi tonjolan bantalan sendi. Sama seperti PELD, teknik ini juga memiliki keunggulan karena minim sayatan dan sangat akurat karena menggunakan kamera endoskopi.

Manfaat lain yang dirasakan pasien melalui metode PELD dan PECD adalah tingkat trauma pasca operasi yang sangat rendah, penyembuhan yang singkat dan terhindar dari risiko infeksi.

“Metode PELD dan PECD merupakan solusi bagi pasien yang selama ini memiliki keraguan untuk melakukan operasi saraf terjepit karena takut risiko kelumpuhan. Melalui PELD dan PECD, akurasi operasi dapat ditingkatkan menjadi 98%. Bahkan untuk masalah biaya masih dibilang terjangkau angkanya sekitar 120-160 juta tergantung derajat keparahannya dan jangan lupa dengan metode ini pasien bisa langsung jalan pulang” tutup Dr Luthfi.

Dr. dr. Luthfi Gatam, Sp.OT (K) Spine merupakan Chairman dari Gatam Institute yang merupakan pusat layanan orthopedi di Eka Hospital yang juga selalu melakukan riset terkini terhadap ilmu pengetahuan kedokteran bidang orthopedi dan spine.

Selain itu, tersedia juga platform robot navigasi pertama di Indonesia dan satu-satunya di Asia Tenggara untuk kebutuhan operasi pasien skoliosis. Gatam Institute juga telah berhasil membawa Eka Hospital sebagai rumah sakit rujukan nasional hingga Asia Tenggara dan terpilih sebagai salah satu rumah sakit percontohan wisata kesehatan atau health tourism Indonesia.

Untuk dapat berkonsultasi dengan Tim Orthopaedic & Spine Center Eka Hospital, Anda dapat menghubungi WhatsApp kami di 08888-90-5555 atau klik link ini wa.me/628888905555.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.