Berbagi Informasi :

Jaminan kesehatan kini jadi isu yang cukup sering dibahas semenjak pandemi virus COVID-19 mendominasi pemberitaan dan saat ini jadi fokus sebagian besar manusia di dunia. Kedatangan virus COVID-19 yang mendadak dan penyebarannya yang sangat cepat serta masif tentu membuat negara semaju apapun tak siap.

Namun, dengan sistem jaminan kesehatan yang sudah terbangun rapi, tenaga medis yang cukup dan fasilitas yang memadai tentu bebannya akan lebih ringan. Seperti beberapa negara di bawah ini yang berdasarkan beberapa sumber selalu masuk dalam daftar negara dengan sistem jaminan kesehatan terbaik di dunia. Siapa saja mereka? 

1. Swiss

Negara ini memang terus melenggang santai di dunia, tak pernah terlibat konflik dan jarang diterpa masalah. Ia juga selalu masuk daftar negara dengan sistem jaminan kesehatan terbaik di dunia menurut beberapa situs ternama.

Swiss mewajibkan semua warga dan penduduk yang tinggal di wilayahnya untuk tergabung dalam asuransi kesehatan. Mereka juga memberikan keringanan harga untuk warga kurang mampu. Rumah sakit tidak pernah menolak pasien dan biasanya waktu antrenya pun tidak begitu lama. Pilihan rumah sakitnya juga sangat beragam dan pasien bisa memilih sendiri provider layanan kesehatan mereka. 

2. Belanda

Negara lainnya yang dianggap punya sistem kesehatan bagus adalah Belanda. Keunggulan dari jaminan kesehatannya terletak pada sinergi yang tepat antara pemerintah dengan sektor swasta di bidang kesehatan.

Dilansir dari sebuah artikel di Vox, semua pelaku baik rumah sakit, perusahaan asuransi, dan produse alkes swasta bermitra dengan pemerintah dan diberikan kepercayaan untuk merawat pasien. Namun, pemerintah tetap mengontrol melalui regulasi agar tarifnya tetap terjangkau bagi semua penduduk. Bahkan lewat call center darurat, para lansia atau warga yang hidup sendiri tak perlu khawatir, tim dispatcher di sana sangat sigap melayani di jam berapapun. 

3. Prancis

Kebanyakan pasien di Prancis diharuskan untuk membayar sendiri biaya perawatan kesehatan mereka. Namun, pemerintah akan mengembalikan dana perawatan tersebut ke pasiren. Reimburse dana akan ditransfer ke akun pasien dalam waktu 3-5 hari saja sebesar 70-100 persen.

Bahkan untuk warga kurang mampu atau yang menderita penyakit kronis, biaya perawatan mereka akan dikembalikan penuh 100 persen.  Semua transaksi layanan kesehatan di Prancis menggunakan semacam smartcard khusus agar bisa terekam secara baik. 

4. Swedia

Swedia dapat status negara dengan jaminan kesehatan terbaik karena jumlah dokter mereka yang cukup tinggi dan anggaran belanja kesehatannya yang di atas rata-rata negara lain di dunia. Warga Swedia tetap harus membayar biaya konsultasi dengan dokter. Anak-anak di bawah usia 6 tahun digratiskan, kecuali jika mereka masuk ke ICU. 

Namun, tenang saja dalam rentang waktu 12 bulan ada biaya maksimal yang bisa dikeluarkan warga dari kantong pribadi. Selebihnya, biaya akan ditanggung oleh pemerintah. 

5. Singapura

Banyak yang menganggap Singapura adalah negara paling kapitalis di dunia. Ini diperkuat dengan kebijakan pemerintahnya yang juga tidak menyediakan asuransi kesehatan terpadu. Namun, pemerintahnya memadukan dengan kebijakan sosialis. Sudah banyak rumah sakit yang dinasionalisasi dan banyak tenaga medis yang diangkat sebagai pegawai negeri. 

Warga juga diwajibkan untuk menyisihkan 7-9 persen dari penghasilan bulanan mereka dalam bentuk Medisave yang dipakai pemerintah untuk memberikan subsidi perawatan kesehatan, obat-obatan dan alkes. 

Dalam praktiknya, warga Singapura tetap harus membayar untuk dapat layanan kesehatan, tetapi harganya sangat terkontrol karena skema tadi. Sistem ini didukung pula oleh penghasilan rata-rata warga Singapura yang cukup tinggi sehingga biaya kesehatan bukanlah momok bagi mereka. Dengan skema tersebut pula, pemerintah hanya terbebani 1/4 anggaran dana kesehatan, sisanya sudah didanai sendiri oleh individu dan perusahaan tempat mereka bekerja. 

6. Jepang

Jepang mewajibkan warga dan penduduk yang tinggal di wilayahnya untuk mendaftarkan dirinya dalam asuransi kesehatan. Biasanya melalui iuran yang dibayarkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Asuransi ini nantinya akan meng-cover  80 persen pengeluaran untuk perawatan kesehatan, sehingga warga hanya perlu membayar 20 persen total biaya.

Berlaku pula bagi warga yang belum bekerja atau bekerja sendiri (tidak ada afiliasi dengan perusahaan). Jumlah iuran akan ditentukan berdasarkan pendapatan bulanan masing-masing individu.Ada pilihan akun premium untuk kelas menengah ke atas dengan biaya yang ditanggung pemerintah sebesar 70%.

Warga di atas 70 tahun hanya perlu membayar 10% dari total biaya perawatan kesehatan mereka. Jaminan ini berlaku untuk semua jenis perawatan kesehatan termasuk fisioterapi, konsultasi kesehatan mental, kesehatan gigi dan lain sebagainya. Skema ini berhasil meningkatkan harapan hidup warga Jepang.

7. Norwegia

Mirip dengan Swedia, biaya perawatan kesehatan di Norwegia pun tidak gratis 100%. Warga tetap harus membayar tiap sesi konsultasi atau terapi kesehatan. Namun, biaya yang akan dikeluarkan warga diberi batasan. Lebih dari limit tersebut, pemerintah yang akan menanggung biayanya. 

Dengan skema jaminan kesehatan ini, pemerintah Norwegia memastikan semua orang membayar sejumlah uang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, tetapi tidak pula mengeluarkan biaya besar. 

8. Jerman

Jerman juga menerapkan sistem jaminan kesehatan terpadu. Diambil dari iuran warga yang dipotong dari 7,5 persen penghasilan bulanan mereka. Dengan begitu, tiap warga memiliki kontribusi yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Selama masih terdaftar, segala perawatan kesehatan gratis tanpa ada biaya sedikit pun di rumah sakit pemerintah. Rumah sakit swasta tetap menerapkan tarif, tetapi harganya sangat murah dibandingkan Amerika Serikat sebagai contoh. 

9. Spanyol

Spanyol ternyata termasuk negara yang memiliki sistem jaminan kesehatan yang terkenal tidak tebang pilih. Bahkan sejak 2012, layanan kesehatan dasar yang gratis juga diberikan bagi penduduk ilegal sekalipun. Mereka juga memudahkan perawatan kesehatan untuk turis serta ekspatriat.

Kebijakan ini diambil sebagai bentuk penghargaan pemerintah pada penduduk yang telah berkontribusi dalam “keamanan sosial” di Spanyol. Keamanan sosial di sini dilihat dari kegiatan mereka selama berada di Spanyol. Ekspatriat legal maupun ilegal yang bekerja, juga turis tentu telah membantu perekonomian Spanyol sehingga berhak atas layanan kesehatan dasar. 

Jumlah dokter di sana ternyata cukup banyak. Sistemnya juga sudah didesentralisasi, tetapi masih ada kesenjangan yang tampak. Sejauh ini rumah sakit dengan tenaga medis dan fasilitas kesehatan terbaik masih terpusat di Madrid dan Barcelona. 

*Disadur dari beberapa sumber dan Opini beberapa Narasumber, serta Tanpa Membuat Pemeringkatan tertentu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.