Mengenal DHIS 2 “Palatform Open Source, untuk Pengembangan Bank Data Kesehatan”

Mengenal DHIS 2 “Palatform Open Source, untuk Pengembangan Bank Data Kesehatan”

Berbagi Informasi :

Apakah DHIS2?

DHIS2 atau District Health Information Software 2 merupakan sebuah perangkat lunak open source berbasis Java yang dikembangkan untuk mendukung pengumpulan data, pelaporan,  dan diseminasi program kesehatan. DHIS2 dirilis menggunakan lisensi BSD dan bisa digunakan tanpa biaya. DHIS2  dikembangkan oleh Universitas Oslo dan sudah diterapkan di 46 negara  termasuk Indonesia. Hingga tulisan ini dipublikasikan versi terakhir yang dapat diunduh adalah versi 2.2.9

Berbeda dengan aplikasi database (basis data), DHIS2 merupakan suatu data warehouse (gudang data). Tidak seperti database yang bertujuan untuk mengelola pengumpulan dan pengolahan data transaksi menggunakan OLTP (online transaction processing), kekuatan DHIS2 terletak pada fungsi analitik melalui OLAP (online analytical processing).

Dengan demikian, DHIS2 dapat memvisualisasikan data kesehatan dalam berbagai dimensi. Fungsi integrasi di DHIS2 memungkinkan untuk mengintegrasikan data kesehatan dari berbagai sumber, khususnya fasilitas pelayanan kesehatan dari berbagai kategori dan hirarki wilyah (pusat, provinsi dan kabupaten/kota).

Beragam manfaat ditawarkan DHIS2 dalam pengelolaan data.  Sebagian diantaranya adalah kemudahan dalam pengumpulan data, pengecekan kualitas data sejak dari pengumpulan, berbagai bentuk format pelaporan yang dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan pengguna, visualisasi data dalam bentuk grafik, peta dan analisis, serta analisis berdasarkan waktu dan tren.

Kualitas data sampai visualisasi

Pada tingkatan transaksi, DHIS2 dapat menyediakan fitur entri data sebagaimana layaknya kegiatan manual menggunakan formulir kertas.  Untuk meningkatkan kualitas data, DHIS2 juga menawarkan fitur validasi data  untuk mengidentifikasi kesalahan ketik pada saat entri.  Pengguna juga bisa menetapkan berbagai aturan validasi.

Selain versi berbasis web, DHIS2 juga memiliki fitur ramah gawai (mobile friendly). Tampilan entri data ini memudahkan para petugas kesehatan dalam mengumpulkan data di lapangan. Kemudian ini juga disertai dengan fasilitas untuk menyimpan data secara luring (offline).

Tidak hanya itu, DHIS2 juga menyediakan fungsi pelaporan yang dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Bentuk tabel, grafik maupun dashboard dapat disusun sesuai dengan jenis indikator program kesehatan, periode pengumpulannya sampai dengan jenis pengguna yang membutuhkannya. Di DHIS2 tersedia fitur untuk merancang formula suatu indikator dan menerapkannya secara otomatis kepada variabel yang terkumpul.

Dari segi keamanan, DHIS2 dilengkapi dengan modul pengelolaan pengguna untuk pengaturan kata kunci, keamanan dan kendali akses (user roles) sehingga akan menurunkan risiko peretasan sistem.

DHIS2 juga menyediakan GIS (geographic information system) untuk mengkomodasi kebutuhan  pelaporan spasial. User dapat membuat peta, baik dalam bentuk poligon (area) maupun titik (lokasi fasilitas kesehatan).

Menu program di DHIS2

Beberapa menu yang ditawarkan dalam DHIS2 untuk pengelolaan data adalah sebagai berikut:

  1. Hirarki organisasi : merupakan definisi dari organisasi menggunakan DHIS 2, bisa berupa fasilitas kesehatan, batas administrasi dan wilayah geografis lainnya yang digunakan dalam pengumpulan data dan analisis data
  2. Elemen Data : merupakan gambaran untuk menjelaskan mengenai apa yang sedang dikumpulkan dan dianalisis.
  3. Data Set : merupakan kumpulan elemen data dikelompokkan bersama untuk pengumpulan data . Dengan kata lain data set merupakan fase desain formulir berdasarkan elemen data yang sudah dibuat sebelumnya.
  4. Aturan Validasi : merupakan fase pengecekan kualitas data yang dapat dirancang sendiri untuk membantu pengecekan kualitas data yang sedang kita kumpulkan
  5. Laporan : merupakan sebuah modul yang disediakan untuk menyajikan data yang sudah dikumpulkan berdasarkan design dan parameter yang diinginkan
  6. Grafik dan Dashboard : Menu ini yang disediakan untuk membuat  grafik dan ditampilkan dalam dashboard sesuai dengan keinginan user.

DHIS2 di Indonesia

Pusat Data dan Informasi  Kementerian Kesehatan sudah mulai membuat terobosan dalam integrasi sumber data kesehatan dengan menerapkan DHIS2. Sejak tahun 2012, Universitas Oslo mulai memperkenalkan DHIS2 kepada Kementerian Kesehatan dan sudah diterapkan sebagai datawarehouse dan aplikasi visualisasi data di tingkat nasional, provinsi, kabupaten hingga fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) .

Komitmen Pusdatin dalam implementasi DHIS2 semakin diperkuat dengan hadirnya program Health System Strengthening (HSS) melalui pendanaan Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria. Implementasi DHIS2  di Indonesia dimulai untuk  integrasi data  yang berasal dari Sistem Informasi HIV/AIDS  (SIHA),  Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) dan Sistem Informasi Malaria (SISMAL), program KIA serta pelaporan program kesehatan secara umum melalui Komunikasi Data (Komdat).

Kegiatan tersebut dijalankan di beberapa wilayah di Indonesia oleh Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan beberapa universitas termasuk Universitas Gadjah Mada. Dengan adanya integrasi data DHIS2, Pusdatin Kemenkes berharap  proses ini dapat memperkuat sistem Komunikasi Data  yang dijalankan oleh Kementerian Kesehatan.

Sejauh ini, DHIS2 sudah diimplementasikan di 10 Kab/Kota di Indonesia yang meliputi: Kab Labuhan Batu, Kab Deli Serdang, Kota Makassar, Kab Pare-pare, Kab Tojo Una-una, Kab Malang, Kab Tulung Agung,  Kab Lombok Timur, Kab Lombok Barat, dan Kab Seram Bagian Barat. Untuk memaksimalkan pemanfaatan DHIS2, Pusdatin juga menfasilitasi kegiatan pengembangan pengetahuan DHIS2 melalui kegiatan workshop dan transfer knowledge untuk mengoptimalkan pelaksanaan dan implementasi DHIS2 di Indonesia.

Upaya penguatan sistem informasi kesehatan (SIK) dengan DHIS2 sudah mulai dilakukan. Keberhasilannya tidak hanya tergantung kepada aplikasi, maupun proses implementasi. Di luar hal tersebut, komitmen dan kepemimpinan dalam sistem kesehatan di berbagai tingkatan (pusat, provinsi, kabupaten dan organisasi fasyankes) sangatlah diperlukan.  Keterpaduan berbagai komponen tersebut akan  menentukan kuat tidaknya sistem informasi kesehatan Indonesia.

Bagi anda yang tertarik mengetahui dan belajar lebih dalam mengenai DHIS2, anda dapat mengikuti kursus online melalui https://academy.dhis2.org/


ARTIKEL HEALTH INFORMATICS RESEARCH Uncategorized