WHO Investigasi Penyakit Misterius yang Hampir Tewaskan 100 Orang di Sudan

WHO Investigasi Penyakit Misterius yang Hampir Tewaskan 100 Orang di Sudan

Berbagi Informasi :

Sebuah penyakit misterius menyerang masyarakat Sudan Selatan. Akibat penyakit ini, sebanyak 97 orang di wilayah Fangak, Sudan Selatan, meninggal dunia.

Melihat kasus ini, pihak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah berjuang untuk mencari sumber penyakit yang belum diketahui itu. Akibat banjir besar yang sedang terjadi di sana, para ahli medis ditugaskan ke sana dengan menggunakan helikopter.

Pada Kamis (23/12/2021) lalu, Komisaris Kabupaten Fangak Biel Boutros Biel mengatakan kematian pertama penyakit misterius ini terjadi pada seorang wanita tua. Kementerian Kesehatan Sudan Selatan mengatakan sebagian besar kematian dilaporkan terjadi pada lansia dan anak-anak usia 1-14 tahun.

Adapun beberapa gejala yang muncul akibat penyakit misteri ini yang dikutip dari ABC News, yaitu:

  • Batuk
  • Diare
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri dada
  • Nyeri sendi
  • Kehilangan nafsu makan
  • Kelemahan tubuh

Juru bicara WHO Afrika, Collins Boakye-Agyemang, mengatakan pihak WHO sudah mulai menyelidiki wabah penyakit misterius itu pada bulan November. Tetapi, tidak memberikan rincian penyelidikannya lebih lanjut.

Kementerian Kesehatan Sudan Selatan mengatakan bahwa wilayah Fangak baru-baru ini dilanda banjir ekstrem. Awalnya, WHO mengira penyakit misterius tersebut adalah wabah kolera yang ditularkan melalui air yang terkontaminasi.

Untuk memastikannya, pihak WHO pun menguji sampel dari pasien. Tetapi, sampel dilaporkan kembali negatif untuk penyakit bakteri menular.

Dalam sebuah pernyataan, kelompok kemanusiaan international Médecins Sans Frontières (Dokter Tanpa Batas) menyebut banjir sebagai “badai sempurna” untuk wabah penyakit.

“Orang-orang tidak memiliki cukup air atau pilihan untuk penyimpanan air, dan tidak ada pengumpulan sampah, sementara kambing dan anjing mati dibiarkan membusuk di sistem drainase,” bunyi pernyataan tersebut pada bulan lalu.

“Dengan kondisi yang semakin diperburuk oleh masuknya pendatang baru [di kamp penampungan], orang-orang berisiko lebih tinggi terkena wabah dan penyakit yang ditularkan melalui air seperti diare akut, kolera, dan malaria,” pungkasnya.

EVENT INTERNASIONAL NEWS