Berbagi Informasi :

Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan izin penggunaan darurat (EUA) pada lima merek untuk vaksin booster. Kelima merek itu yakni CoronaVac, Pfizer, AstraZeneca, Moderna dan Zifivax.

Hari ini Rabu (12/1/2022), pemerintah melakukan kick off pemberian vaksin booster atau dosis tiga kepada kelompok prioritas di 244 kabupaten/kota.

Salah satu hal lain yang menjadi perhatian saat menerima vaksin yakni efek samping vaksin booster. Lalu bagaimana dengan efek samping dari masing-masing vaksin booster COVID-19 tersebut? Berikut ulasannya.

1. Efek samping vaksin booster CoronaVac

Vaksin CoronaVac/Sinovac memperoleh izin penggunaan darurat pada Januari 2021 silam. Untuk efek sampingnya, BPOM menyebut Sinovac bersifat ringan-sedang. Efek samping ini juga disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Beberapa efek samping vaksin booster Sinovac antara lain:

  • Reaksi lokal seperti nyeri di tempat suntikan
  • Kemerahan
  • Umumnya tingkat keparahan grade 1-2

2. Efek samping vaksin booster Pfizer

Efek samping yang dirasakan penerima vaksin booster Pfizer tidak berbeda jauh dengan vaksin-vaksin lain. Pfizer sendiri akan diberikan dengan skema homolog.

Beberapa efek samping vaksin booster Pfizer antara lain:

  • Nyeri ditempat suntikan
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Nyeri sendi
  • Demam

3. Efek samping vaksin booster AstraZeneca

Data keamanan dari vaksin AstraZeneca dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping atau KIPI dilaporkan bersifat ringan dan sedang (ringan 55 persen, sedang 37 persen).

  • Nyeri di area suntikan
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Myalgia
  • Malaise
  • Demam
  • Tubuh menggigil
  • Mual
  • Artralgia (nyeri atau kaki pada sendi)

Sedangkan untuk dua vaksin jenis lainnya yakni Moderna dan Zivivax, BPOM tidak merinci lebih lanjut. Meski demikian BPOM membeberkan vaksin Moderna punya respon imun antibodi netralisasi sebesar 13 kali setelah pemberian dosis booster.

Sementara vaksin Zifivax disebut bisa meningkatkan kemampuan antibodi netralisasi lebih dari 30 kali pada subjek yang telah mendapatkan dosis primer Sinovac atau Sinopharm.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.