Berbagi Informasi :

CEO Media Informasi Kesehatan, Mengungkapkan bahwa Implementasi Sistem Informasi Kesehatan saat ini, merupakan kegiatan yang tidak hanya berfokus pada masalah Teknologi Informasi atau sekedar pengembangan sistem berbasis komputer saja. Namun lebih dari itu, bahwa keberadaan sistem informasi dapat menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah kebijakan dan program-program kesehatan.

“Sistem yang terintegrasi dan adanya interopabilitas antar lembaga, memungkinkan data terdistribusi secara cepat dan akurat, baik dari hulu dan hilir. Pandemi Covid-19 Mengajarkan kita, bahwa data yang akurat dan up to date menjadi sangat penting untuk menentukan kebijakan yang cepat dan tepat”. ungkap Fahmi Hakam, dalam keterangan Pers di sela Kesibukannya melanjutkan Studi S3 di Turki.

Perkembangan kualitas layanan yang cukup pesat, mulai dari Revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 yang berdampak pada perubahan tata kelola dan layanan kesehatan, yang ke arah digital health care dan pengembangan artificial intelegence untuk kesehatan.

“Penyusunan rencana stratgis Manajemen sistem Informasi Kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dan Pemerintah (Kemenkes/ Dinas Kesehatan), BPJS Kesehatan serta steakholder lainnya. Akan sangat menentukan, bagaimana arah Implementasi Sistem Informasi Kesehatan kita“. Ungkap Fahmi.

Permasalahan dibeberapa negara berkembang seperti indonesia, adalah kurangnya perencanaan yang matang dan masih banyak yang belum memahami secara utuh manfaat sistem informasi kesehatan, sehingga berdampak pada akurasi, standarisasi data, serta masalah dalam integrasi dan interopabilitas sistem.

“Padahal upaya membangun SIK yang professional akan sangat membantu upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan merupakan komponen yang strategis dalam membantu upaya pengambilan keputusan dan program-program layanan kesehatan masyarakat”. Lanjutnya.

Ambil contoh sederhana saja, Negara-negara maju di Eropa memiliki Strategic Plan yang jelas untuk pengembangan Health Information System, mulai kebijakan Makro dari pemerintah pusat dan daerah, serta masing-masing institusi sesuai karakteristik yang kebutuhannya. Serta untuk memungkinkan Interopabilitas sistem secara luas dan adanya data sharing dan exchange secara menyeluruh dapat menggunakan Single Sign On (SSO) dengan memakai satu identitas utama saja (No. Identitas Penduduk), kita dapat mengakses seluruh riwayat/ layanan yang kita dapatkan, termasuk rekam kesehatan, asuransi, dll. Ungkap CEO Media InfoKes tersebut.

Saya juga berharap, dengan perkembangan saat ini dan kebutuhan, serta tantangan masalah kesehatan kedepannya. Pengembangan sistem informasi kesehatan, dapat lebih terarah dan terencana dengan baik, tentunya untuk meningkatkan layanan kesehatan, serta derajat kesehatan masyarakat. Pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.