Berbagi Informasi :

Jakarta – Menteri Kesehatan berbincang dengan diaspora kesehatan Indonesia yang berkarir di Amerika dan Eropa secara daring. Pertemuan yang turut dihadiri Wakil Menteri Kesehatan, Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan, Kepala KKI, Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Inggris Raya dan Jerman ini, secara rinci membahas mengenai rencana Kementerian Kesehatan dalam melaksanakan transformasi sistem kesehatan di Indonesia. Menkes ingin diaspora kesehatan Indonesia membantu menyukseskan program tersebut.

Yang paling dekat, Kementerian Kesehatan akan melakukan transformasi layanan primer yang dimulai dengan memperluas infrastruktur kesehatan hingga level rumah/masyarakat, meningkatkan program promotif preventif, menurunkan angka stunting, dan menekan Angka Kematian Ibu (AKI).

“Satu-satu kita bereskan supaya lebih baik lagi,” tuturnya.

Perihal layanan primer, Kemenkes berupaya untuk meningkatkan layanan kesehatan terutama untuk penyakit degeratif yang menjadi penyumbang kematian tertinggi di Indonesia yakni jantung, stroke dan kanker.

Setiap daerah didorong memiliki layanan kesehatan dengan jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas yang memadai. Sehingga, pasien bisa cepat ditangani dan diselamatkan tanpa harus menunggu untuk dirujuk ke daerah lain atau bahkan sampai dirujuk ke luar negeri. Karenanya kualitas layanan RS baik milik pemerintah maupun swasta harus ditingkatkan.

“Ada daerah yang dokter spesialisnya cuma 1 atau 2, ini sangat jauh untuk melayani jumlah populasi di wilayah masing-masing,” ujarnya.

“Kasus penyakit tidak menular di Indonesia setiap tahunnya bertambah. Karena layanan rujukannya sedikit, antreannya jadi makin panjang. PTM itu kan butuh perawatan yang cepat, kalau waktu tunggunya lama, pantes saja orang pergi keluar. Makanya kita akan segera bereskan,” imbuh Menkes.

Pada pelaksanaanya, ketersediaan tenaga kesehatan menjadi tantangan tersediri dalam upaya pembangunan kesehatan di Indonesia.

Saat ini jumlah tenaga kesehatan di Indonesia masih sangat kurang. Menurut WHO, rasio ideal antara dokter dan masyarakat adalah 1:1000 orang. Artinya satu dokter untuk melayani 1000 penduduk di satu wilayah.

Menkes merinci ketersediaan dokter di Indonesia saat ini hanya 101.476 dokter, dengan jumlah populasi sekitar 273,984,400 jiwa, Indonesia masih kekurangan sekitar 172.508 dokter. Untuk itu, perlu ada percepatan penambahan jumlah dokter untuk memenuhi rasio tersebut.

“Dengan tingkat kelulusan dokter sebanyak 12 ribu orang per tahun, setidaknya butuh waktu sekitar 10 tahun untuk memenuhi rasio dokter di Indonesia. Kita harus percepat kerjarnya, karena kalau tidak akan semakin banyak masyarakat yang tidak tertolong,” kata Menkes.

Kementerian Kesehatan tengah menjajaki kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menambah jumlah fakultas kedokteran dan meningkatkan produksi tenaga kesehatan. Penambahan ini sebagai upaya pemenuhan dan pemerataan tenaga kesehatan di Indonesia.

Skema yang disiapkan pemerintah adalah menerapkan konsep pengampuan dan sharing knowledge lintas daerah. Masing-masing fakultas kedokteran dan RS akan mengampu fakultas kedokteran dan RS lain di seluruh Indonesia. Untuk itu, kedepan jumlah dokter, dosen dan RS akan ditambah tanpa mengurangi kualitas layanan. Ditargetkan penyediaan dokter ini akan tercapai dalam 10 tahun.

“Prodi-prodinya aku minta dibuka lebih banyak, terutama penyebab kematian yang lebih besar di Indonesia, kanker, stroke dan jantung. Itu butuhnya spesialisnya apa saja, prodinya harus ada,” kata Menkes.

Kemenkes saat ini telah melakukan pemetaan kebutuhan dokter di seluruh daerah di Indonesia. Diharapkan dalam waktu lebih cepat bisa segera direalisasikam untuk memperkecil gap rasio dokter.

Oleh karena itu, Menkes ingin pertemuan dengan diaspora kesehatan Indonesia menjadi awal yang baik bagi peningkatan pembangunan kesehatan di Tanah Air. Berbagai ide, masukan ataupun saran dari berbagai diaspora kesehatan Indonesia diharapkan bisa memperkuat road map Kementerian Kesehatan untuk menyukseskan transformasi sistem kesehatan.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi sarana untuk meningkatkan dan memperkuat diaspora kesehatan Indonesia. Sebenarnya tidak apa-apa kalau tidak kembali ke Indonesia, yang penting ada jaringannya, ada akses ke riset, kita bareng-bareng bangun sistem kesehatan yang lebih bagus lebih kuat dimanapun kita berada,” kata Menkes.

Sejalan dengan harapan tersebut, salah satu perwakilan diaspora kesehatan Indonesia di Jerman dr. Prasti Pomarius siap membantu Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan Indonesia yang lebih bagus.

“Kami di IASI Jerman siap membantu untuk mewujudkan kualitas kesehatan Indonesia yang lebih baik, terlebih saat ini alat-alatnya sudah baik, kini tinggal meningkatkan sumber daya kesehatannya,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.