Berbagi Informasi :

Pengobatan sendiri atau swamedikasi merupakan perilaku mengkonsumsi obat sendiri berdasarkan diagnosis terhadap gejala sakit yang dialami ( Brata, Fisher, Marjadi, Schineider & Cliffordm 2016). Swamedikasi sendiri merupakan bagian dari “self-care” yang merupakan usaha untuk mempertahankan Kesehatan ataupun mencegah dan mengatasi penyakit ( WHO 2014). Swamedikasi sangat erat kaitannya dengan obat-obatan “over the counter” (OTC) yang biasanya digunakan untuk mengobata penyakit ringan seperti sakit kepala, radang tenggorokan, flu dan demam. Serta dismenore ( Sawalha, 2007)

Swamedikasi mempunyai beberapa keuntungan jika dilakukan dengan benar, diantaranya adalah menghemat waktu dan biaya dalam berobat pada fasilitas kesehatan (Lei, Jiang, Liu,Ferrier, & Mugavin, 2018). Tidak dipungkiri swamedikasi juga memiliki beberapa resiko terutama di negara berkembang dengan populasi yang memiliki tingkat pengetahuan kesehatan yang rendah memperbesar resiko penggunaan obat yang tidak tepat (Ahmed, Sundby, Aragaw, & Abebe, 2020)

Beberapa perilaku yang dikategorikan sebagai swamedikasi adalah penggunaan obat- obatan bebas (over the counter) terkadang termasuk juga obat-obatan yang diresepkan untuk mengobati gejala/penyakit berdasarkan diagnosis sendiri. Obat-obatan OTC ini biasanya tersedia di toko obat, toko retail, dan juga kios (Atmadani, Nkoka, Yunita, & Chen, 2020).

Obat obatan yang digunakan dalam swamedikasi selain obat OTC dan obat yang diresepkan, termasuk didalamnya adalah obat tradisional maupun obat herbal (Brata et al.,2016). Faktor utama yang mendasari perilaku swamedikasi adalah obat-obatan dan biaya pengobatan yang mahal, kurangnya pendidikan dan pengetahuan dalam bidang kesehatan, obat-obatan yang tersedia secara bebas di toko-toko, menjual obat-obatan tanpa resep dokter dan kurangnya pengawasan ketat dari pemerintah terkait penyebaran obat, tidak tersedianya fasilitas medis, dan kemiskinan (Khan, 2018). Pengalaman sakit sebelumnya dan rekomendasi dari teman dan keluarga berdasarkan sakit yang pernah diderita juga menjadi faktor pendukung untuk melakukan swamedikasi (Ha, Nguyen, & Nguyen, 2019).

Swamedikasi memainkan peran yang penting sebenarnya dalam sistem pelayanan kesehatan (Lei et al., 2018). Bila dilakukan secara benar, swamedikasi seharusnya dapat membantu masyarakat dalam pengobatan sendiri secara aman dan efektif pada penyakit- penyakit ringan. Swamedikasi memberikan solusi yang murah, cepat, dan nyaman dalam mengatasi penyakit ringan. Swamedikasi menghemat lebih banyak waktu dan biaya dalam mencari fasilitas kesehatan (Helal & Abou-Elwafa, 2017). Beberapa orang sering mendiagnosis masalah kesehatan mereka dengan membandingkan gejala dari penyakit diderita dengan orang lain yang didiagnosis dengan tanda dan gejala yang sama. Terkadang pengobatan yang disarankan sendiri dapat memberikan hasil yang positif (Khan, 2018)

Penggunaan obat-obatan dalam swamedikasi yang sesuai dengan aturan dan kondisi penderita akan mendukung upaya penggunaan obat yang rasional. Kerasionalan penggunaan obat terdiri dari beberapa aspek, yaitu: ketepatan indikasi dalam mengkonsumsi obat, kesesuaian dosis penggunaan, ada tidaknya kontraindikasi, ada tidaknya efek samping dan interaksi dengan obat dan makanan, serta ada tidaknya penggunaan lebih dari dua obat untuk indikasi penyakit yang sama (Benítez, 1991).

Pada obat-obat OTC atau yang akan digunakan dalam swamedikasi, perlu diperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan penggunaannya. Hal-hal tersebut berupa informasi yang menjelaskan cara penggunaan obat, kemungkinan efek samping obat, bagaimana efek obat harus dipantau, kemungkinan interaksi antat obat, tindakan pencegahan dan peringatan, durasi penggunaan, dan kapan harus melakukan pengobatan lanjutan. Biasanya informasi informasi tersebut tertera dalam kemasan obat (WHO, 2014).

Swamedikasi memainkan peran yang penting sebenarnya dalam sistem pelayanan kesehatan. Penggunaan obat obatan dalam swamedikasi yang sesuai dengan aturan dan kondisi penderita akan mendukung upaya penggunaan obat yang rasional. Bila dilakukan secara benar, swamedikasi memberikan solusi yang murah, cepat, dan nyaman dalam mengatasi penyakit ringan. Potensi risiko yang terkait dengan swamedikasi yang tidak tepat adalah diagnosis penyakit yang salah, keterlambatan dalam mencari pengobatan yang diperlukan sehingga penyakit dapat menjadi lebih berat. Diharapkan artikel ini dapat menjadi dasar untuk penelitian lanjutan terutama pada kelompok rentan terhadap perilaku swamedikasi.


Kontributor : Azkharien Meydiana (Mahasiswa Universitas Binawan)


 

Referensi :

  • Laurensius Amedeo Sitindaon (2020). Perilaku Swamedikasi Self Medicated Behavior. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada . Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
  • Ahmed, S. M., Sundby, J., Aragaw, Y. A., & Abebe, F. (2020). Self-medication and safety profile of medicines used among pregnant women in a tertiary teaching hospital in jimma, ethiopia: A cross-sectional study. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(11)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.