Berbagi Informasi :

Jakarta – Pada 17 Mei 2022, World Hypertension Day (WHD) 2022 kembali diperingati di Indonesia dan di seluruh dunia pada hari ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, WHD kembali mengusung tema “Measure your blood pressure, control it, live longer” yang menekankan pentingnya mengukur dan mengendalikan tekanan darah untuk mencapai hidup yang berkualitas.

Tema tersebut terus dikumandangkan mengingat prevalensi hipertensi di dunia, termasuk di Indonesia sampai saat ini tetap tinggi atau belum mengalami perubahan selama 3 dekade terakhir. Oleh karena itu, kesadaran terhadap hipertensi tetap menjadi issue global yang penting dan memerlukan keterlibatan semua pihak.

Jumlah penyandang hipertensi di Indonesia sampai saat ini masih relatif tinggi dan kecenderungannya tidak menunjukkan penurunan dalam satu dekade terakhir. Hipertensi secara perlahan tapi pasti akan menyebabkan komplikasi kerusakan struktural dan fungsional pembuluh darah dan juga organ-organ target (otak, mata, jantung, ginjal) yang dikenal dengan istilah Hypertension-Mediated Organ Damage (HMOD). Beberapa manifestasi klinis HMOD, yaitu berbagai macam penyakit jantung, stroke, demensia vaskuler dan gagal ginjal.

Pengendalian hipertensi bukan hanya mengenai bagaimana mencapai target tekanan darah yang ditetapkan, tetapi juga bagaimana mendeteksi sedini mungkin untuk mencegah terjadinya komplikasi atau kecacatan dan untuk mencapai hidup yang bahagia dan berkualitas. Namun sayangnya, sampai saat ini kepedulian terhadap hipertensi dan kesadaran akan pencegahan atau deteksi dini di Indonesia masih sangat rendah.

Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 yaitu sekitar 34% tidak berubah dari angka yang didapat pada survey tahun 2007. Penyebabnya adalah tingginya kasus baru hipertensi akibat tingginya faktor risiko hipertensi seperti diabetes mellitus (kencing manis), kegemukan, konsumsi garam yang tinggi dan merokok.

Dalam Virtual Press Conference hari ini, dr. Erwinanto, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dan Merupakan Dokter Spesialis jantung – pembuluh darah, mengatakan, “Tekanan darah harus dikendalikan baik bagi pasien hipertensi maupun individu yang tidak menderita hipertensi. Bukti penelitian yang ada secara konsisten memperlihatkan bahwa penurunan tekanan darah bagi pasien hipertensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, stroke dan gagal ginjal yang selain berhubungan dengan tingkat kematian tinggi juga menghabiskan biaya terbesar dari penyakit katastropik di Indonesia.”

“Sedangkan bagi individu yang bukan penyandang hipertensi, tekanan darah juga perlu dikendalikan untuk mencegah terjadinya hipertensi. Setiap peningkatan tekanan darah sebesar 20/10 mm Hg, dimulai dari tekanan darah 115/75 mm Hg, berhubungan dengan peningkatan kematian akibat penyakit jantung koroner dan stroke sebesar 2 kali. Peningkatan tekanan darah juga meningkatkan kejadian penyakit ginjal secara bermakna. Di tingkat masyarakat, pencegahan hipertensi diharapkan dapat menurunkan prevalensi hipertensi,” lanjutnya.

“Survey May Measurement Month yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia pada tahun 2017 yang mengikut sertakan partisipan di daerah perkotaan berusia muda (umur rerata 43 tahun) menunjukkan hanya 52,5% penyandang hipertensi yang minum obat penurun tekanan darah,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Ia menghimbau masyarakat untuk mengukur tekanan darah secara akurat, untuk mengetahui menderita hipertensi atau tidak. “Jika menderita hipertensi, kendalikan tekanan darah melalui usaha menurunkannya dengan cara terapi perubahan gaya hidup dengan atau tanpa terapi obat. Jika tidak menderita hipertensi, kendalikan tekanan darah melalui usaha pencegahan agar tekanan darah tidak naik melalui terapi perubahan gaya hidup. Pengendalian tekanan darah yang dilakukan akan berdampak hidup lebih lama karena peningkatan tekanan darah merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), stroke dan ginjal. Oleh karena itu, Virtual Press Conference ini menghadirkan dokter spesialis jantung dan kedokteran vaskular, dokter spesialis syaraf dan dokter subspesialis ginjal hipertensi,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, Wakil Ketua InaSH dan Merupakan Dokter Spesialis Syaraf, mengatakan, “Hipertensi merupakan masalah kesehatan global termasuk di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh oleh Perhimpunan Dokter Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Indonesian Society of Hypertension) bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2018 menunjukan pada sampel 68.846 orang dengan rentang usia rata 45 ± 16,3 tahun ditemukan 27.331 orang (30,8 %) adalah hipertensi. Angka ini lebih rendah dari survei tahun 2017 yaitu 34,5 %, hal ini disebabkan pada survei tahun 2018 terdapat 18,6 partisipan berusia 18-29 tahun. Dalam kelompok hipertensi hanya 13.018 (47,6 %) yang menyadari adanya hipertensi dan hanya 47,4 % yang mengkonsumsi obat anti hipertensi. Survei juga menunjukan target pengobatan tidak tercapai pada 10.106 pasien (78,0 %). Dengan kondisi di Indonesia seperti ini tidak heran bila insiden penyakit jantung koroner, stroke dan gagal ginjal masih tinggi.”

Ia mengemukakan, “Hipertensi dapat dicegah walaupun faktor genetik dan usia sulit untuk dimodifikasi. Namun banyak faktor risiko lain yang dapat dihindari agar tidak terjadi hipertensi dengan menanamkan pola hidup sehat sejak usia dini yang dilakukan dalam keluarga dan melalui edukasi di sekolah. Hal ini lebih mudah dibandingkan menyarankan perubahan gaya hidup bagi orang dewasa. Orangtua dan guru mempunyai peranan penting dalam menanamkan pola hidup sehat pada anakanak yang akan terus diingat dalam memorinya hingga mereka dewasa. Mengurangi paparan terhadap polusi udara juga merupakan upaya pencegahan terhadap hipertensi, selain mengatasi stresor dan tidur yang cukup.”

“Dengan bertambahnya usia maka risiko hipertensi meningkat. Risiko hipertensi meningkat tajam pada usia 45 tahun. Pemeriksaan tekanan darah secara regular disarankan dimulai pada usia 18 tahun, terutama yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi atau penyakit kardiovaskular. Pasien diabetes berisiko mengalami hipertensi sehingga dengan demikian harus di lakukan pemeriksaan darah berkala untuk mendeteksi adanya hipertensi,” lanjutnya.

“Selain pengukuran tekanan darah di fasilitas kesehatan, dapat juga dilakukan secara mandiri di rumah atau di komunitas tertentu yang dikenal dengan Home Blood Pressure Monitoring (HBPM) atau disebut dengan Pengukuran Tekanan Darah di Rumah (PTDR). Dengan melakukan pengukuran yang benar dan akurat akan didapatkan hasil yang tepat. PTDR sangat membantu untuk mendeteksi hipertensi jas putih, yaitu peningkatan tekanan darah saat diukur di klinik atau RS namun saat dilakukan pengukuran di luar klinik didapatkan tekanan darah normal. PTDR juga dapat digunakan untuk memonitor hasil pengobatan. Selain itu dengan melakukan pengukuran mandiri membuat pasien menjadi lebih patuh dalam pengobatan,” jelasnya.

Tentang bagimana hipertensi dapat mengakibatkan kerusakan organ, dr.Djoko Wibisono, SpPD-KGH, Sekretaris Jenderal InaSH dan Merupakan Dokter Spesialis penyakit dalam – konsultan ginjal hipertensi, dalam presentasinya menjelaskan, “Hipertensi yang tidak dikendalikan dan ditangani dengan tepat dapat menyebabkan kematian akibat kerusakan organ. Hal ini dikenal dengan istilah Hypertension-Mediated Organ Damage (HMOD). Dampak kerusakan organ yang disebabkan oleh hipertensi pada otak mengakibatkan stroke, pada Jantung mengakibatkan penyakit jantung koroner, infark miokard, pembesaran jantung kiri dan gagal jantung. Selain itu, hipertensi pada ginjal dapat menyebabkan Penyakit Ginjal Kronik (PGK) yang membutuhkan hemodialysis, hipertensi pada mata dapat menyebabkan retinopati yang berakhir dengan kebutaan.”

“Komplikasi hipertensi dapat dicegah dengan mengendalikan tekanan darah baik dengan perubahan gaya hidup dan terapi farmakologi (obat). TIPS hidup sehat dengan hipertensi antara lain dengan menurunkan BB, mengatur diet: mengurangi garam <5g/hr, banyak konsumsi sayur dan buah, menghindari lemak berlebihan; berhenti merokok; OR secara teratur; minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter; stop alkohol; mengendalikan stress dan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin serta periksa laboratorium untuk deteksi dini terjadinya komplikasi,” tutupnya.

Dalam sesi tanya jawab, para Narasumber juga mengungkapkan tips bagaimana melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan mandiri di rumah, yang juga dianggap akan lebih akurat. Kemudian masyarakat juga dihimbau untuk selalu care dengan kondisi tubuh dan kesehatannya. Semua Narasumber juga sepakat, bahwa Life Style Intervention jauh lebih bagus daripada Medicine Intervention. Perbaiki pola hidup, makan dan mulailah biasakan aktifitas fisik atau olahraga sejak kecil.

Pada sesi tersebut para Narasumber juga menyampaikan, bahwa Alat atau aplikasi pengukur tekanan darah digital yang banyak berkembang di masyarakat, juga perlu ditera atau dilakukan kontrol dengan alat ukur pembanding lain yang menjadi patokan, untuk menjaga akurasi dan ketepatannya.

dr. Erwinanto, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC, juga menegaskan “bahwa mengatasi masalah kesehatan harus multi sektoral dan melibatkan seluruh pihak, terutama pihak media yang dapat menjadi jembatan komunikasi dengan masyarakat”.

Para Narasumber juga menyampaikan tanggapannya terkait perkembangan Aplikasi Digital Healtcare “StartUp Bidang Kesehatan” di Indonesia, yang sudah sangat berkembang dan ada beberapa aplikasi yang sudah mampu mengumpulkan data pemeriksaan, hingga memonitoring kondisi kesehatan pasien. Meskipun belum banyak masyarakat indonesia yang Menggunakan aplikasi tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Media Informasi Kesehatan will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.